Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘history’


the Caliph deposed

1. hari ini, 3 maret 2012, 88 tahun sejak khilafah dihapuskan pada 3 maret 1924
2. bukan mengenang, namun mengambil makna agar memahami apa obat untuk kehancuran Khilafah Islam yg pernah menaungi seluruh Muslim

3. meniti sejarah memahami kesalahan masa lalu untuk jadi peringatan bagi jalan yang dibangun di masa depan ketika menyambut kembalinya Khilafah

4. benar ucapan Ibnu Khaldun, bahwa peradaban itu seperti pendulum, awalnya tak terorganisir, lalu menjadi rapi, dan kembali lagi rapuh

5. begitu pula Islam, setelah menikmati zaman keemasan (Islamic Golden Age) pada kurun 750-1500, dari sana perlahan mengalami degradasi

6. Khilafah Abbasiyah menimati puncak keemasan sains dan teknologi, sementara Khilafah Utsmaniyah tandai keemasannya dengan wilayah terluas

7. masa Sultan Fatih Mehmed II dan Khalifah Suleyman Qanuni, Islam sudah sangat kuat, sayangnya tak digunakan utk perbaiki pemahaman Islam

8. maka pada masa Khalifah Suleyman, Islam mencapai puncak kejayaan dan luasan, Islam memiliki hegemoni di daratan maupun lautan

9. terlena oleh harapan kemenangan dan kemewahan hidup, pd 1683 pasukan Islam tertahan dan kalah menyakitkan di gerbang Wina

10. itulah terakhir kalinya kaum Muslim lakukan jihad, tanpa disadari, ini adl satu faktor yg sebabkan lemahnya Islam dan bangkitnya barat

11. tak diragukan lagi, kejadian Wina 1683 jadi titik tolak mundurnya Islam

12. saat jihad ditinggalkan, barat mulai ekspansi muliter dengan 3G (gold-gospel-glory), lalu menjajah negeri muslim

13. penyebab kedua runtuhnya Khilafah Islam adl karena ditinggalkannya bahasa arab sebagai bahasa Islam, sehingga lemahlah pemahaman Islam

14. sebagaimana jamak diketahui, Khilafah Islam berasal dari sultan2 Mamalik, tentara2 ajam yang akhirnya jadi pemimpin kaum Muslim

15. masalah mulai muncul saat kaum Mamalik ini tak menjadikan bahasa arab sebagai bahasa ibu kecuali pada sultan2 yg sedikit

16. terjadilah pemisahan “potensi Islam” dan “potensi bahasa arab” yang merupakan pokok dari pengetahuan dan ilmu dalam Islam

17. rendahnya pemahaman Islam akibat ditinggalkannya bahasa arab dapat terlihat ketika Al-Qaffal menutup pintu ijtihad, sehingga ummat resah

18. permasalah mulai muncul ditengah ummat tanpa ada solusi, “apakah TV halal atau haram?”, “bisakah Al-Qur’an dicetak?” dan semisal

19. lengkap kemunduran berpikir kaum Muslim tatkala diserang oleh filsafat persia dan yunani yang menyusup dalam pikir kaum Muslim

20. filsafat persia sangat nyata pada pemikiran tasawuf pd masa itu, penyucian diri dgn cara menyiksa fisik sebagai ganti ketinggian ruh

21. filsafat yunani pun sebenarnya menyerang pemahaman tentang taqdir, qadha-qadar, sampai melahirkan fitnag khalqul qur’an gaya mu’tazilah

22. saat kondisi pemahaman ummat melemah dan ketakwaan mereka pada Allah mulai memudar, serangan2 barat diintensifkan

23. akhir abad ke-16, para misionaris mulai mengacaukan pemahaman ummat, dumulai di malta, tugas mereka membuat ragu ummat akan ajaran Islam

24. prancis dan inggris, dan amerika urun Rembuk pula pada abad 18-19, menabur benih kehancuran dengan menanam paham nasionalisme

25. paham nasionalisme disebarkan sampai kaum Muslim mengelompokkan diri sbg arab, turki atau mesir, dari menganggap mereka satu Muslim

26. salah satu kota besar tempat dakwah nasionalisme ini adalah di beirut, American University of Beirut misalnya dibentuk pd 1866

27. sebab selanjutnya keruntuhan Khilafah ini terkait dengan serangan fisik, perang dan imperialisme serta melalui perjanjian2

28. perjanjian karlowitz 1699, passarowitz 1718, Belgrade 1739, Kucuk Kaynarca 1774, semuanya mengerat habis wilayah Khilafah Utsmani

29. russia mengerat wilayah Khilafah di utara sampai berbatasan dengan laut hitam di masa Catherine

30. sementara prancis menjajah mesir pd 1698, Aljazair pd 1830, tunisia pd 1881, Moroko pd 1912

31. inggris mengambil wilayah india, cina barat, sudan, dan akhirnya merebut mesir dari prancis, kaum Muslim seperti hidangan yg direbutkan

32. ditengah-tengah kekacauan ini, internal Muslim goyah karena seringnya pemberontakan yg dilakukan oleh tim inti yeniseri

33. pembubaran tim yeniseri oleh Khalifah Mahmud II pd 1826 menambah daftar panjang penyebab lemahnya Islam dan lemahnya pasukannya

34. saat tim yeniseri bubar, maka pengaruh barat yang deras masuk memaksa kaum Muslim mengadakan pembaruan militer dan hukum

35. reformasi inilah yg dinamakan ‘tanzimat’ sebuah reformasi yg agaknya lebih cenderung ke sekuleriasi Khilafah Islam

36. pasca tanzimat ini, Khilafah mulai mengadopsi sistem keuangan, hukum sipil dan hukum pidana Prancis

37. reformasi militer berdasarkan sistem militer prancis dan swedia, sehingga militer kaum Muslim mulai dikuasai secara tak langsung

38. hapus jizyah, dirikan pasar saham, non-muslim diizinkan jadi tentara reguler, bisa dirikan universitas2 barat, dan dirikan parlemen

39. selain itu juga dibuat hemayun script, lalu terapkan sistem parlementer, membagi dua pengadilan, dan mengekor hukum positif barat

40. bersamaan dengan itu, benih2 nasionalisme mulai tumbuh di dunia Islam, fatatul turk (pemuda turki), fatatul arab (pemuda arab) buktinya

41. kaum pemuda berlandaskan nasionalisme ini mulai menyerukan disintegrasi Islam berdasar etnis, semisal gerakan ittihad wa taraqiy turki

42. dan gerakan2 ini dapat sambutan dan dukungan hangat dari loji2 freemasin di yunani, dan mendanai mereka, izinkan rapat di pembangkit mereka

43. masya Allah, begitulah kaum Muslim dikerat dengan pisau nasionalisme, ukhuwah dinomordiakan warna kulit dan bentuk wajah

44. tokoh2 antek barat laksana jamaluddin al-afghani pun diorbitkan untuk menolak Khilafah dan munculkan Pan Arabisme (persatuan etnis arab)

45. khusus jamaludiin ini, Khalifah Abdul Hamid II dlm catatan hariannya menyebutnya “pelawak” dan orang yang sangat berbahaya

46. dan pukulan pamungkas dari barat datang ketika PD1 1914-1917, kaum Muslim terjebak perang melawan sekutu dan kalah total

47. maka lewat perjanjian sykes-PICOT (inggris-prancis) wilayah Islam secara formal dikerat penjajah, dipecah belah

48. antek inggris lawrence of arabia menginisiasi pemberontakan negeri2 arab di syam pada 1916-1918, muncullah negeri2 baru

49. termasuk ibnu saud yg didukung melakukan pemberontakan, dan raja faisal yg memimpin “revolusi arab” juga disupport inggris

50. maka inggris menggarisbawahi wilayah2 kaum Muslim, dan memotong mereka menjadi satuan2 yg lemah

51. lewat inggris pula mustafa kemal berhasil mengganti Khilafah Utsmani menjadi Republik Turki, dan Khilafah resmi dihapus pd 3 Maret 1924

demikian pembahasan runtuhnya khilafah, insya Allah besk kita lanjutkan ke “apa yang harus kita lakukan sekarang?”

diambil dari twitter @ felixsiauw, follow untuk selanjutnya ..
sumber: http://maf1453.com/felix/2012/03/04/bagaimana-khilafah-diruntuhkan/ # more-834

Advertisements

Read Full Post »


Dewasa ini nyaris tidak ada orang yang tidak mengenal musik dalam berbagai bentuknya. Musik hadir tidak cuma di acara seni, budaya atau pesta, namun juga di upacara kenegaraan, olahraga, berita televisi, hingga acara-acara keagamaan. Kalau di agama Nasrani atau Hindu, musik memang dari dulu bagian integral dari ritual. Namun meski tidak menjadi rukun ibadah, makin banyak acara keislaman yang diiringi dengan musik. Alhamdulillah, belum perlu ada shalat atau khutbah yang diiringi musik. Kalau seperti itu jelas bid’ah. Namun cobalah tengok berbagai majelis dzikir, tabligh akbar atau istighotsah. Makin banyak suara musik yang menjadi latar agar persiapan lebih syahdu, agar pergantian acara lebih segar, atau agar suasana do’a lebih berkesan. Sebagian orang menyangka bahwa musik memang terkait hadharah, dan orang Islam tidak pantas ikut-ikutan. Sebagian ulama bahkan dengan tegas mengharamkan musik. Namun kalau kita merujuk kepada nash, akan ditemukan sejumlah dalil bahwa Rasul membolehkan bahkan menganjurkan memainkan musik, seperti saat hari raya atau saat ada pesta pernikahan. Tentu saja, kehalalan ini bersyarat, yakni tidak ada isi lagu atau syair yang bertentangan dengan Islam, tidak ada aurat yang dipamerkan, tidak ada ikhtilat (campur aduk antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram) dan tidak menghabiskan waktu dengan musik sampai melalaikan berbagai kewajiban syar’i. Kalau syarat ini tidak dipenuhi, niscaya musik itu akan melalaikan manusia dari cahaya iman, dari dakwah, dari jihad, bahkan dari memenuhi kewajiban fardhiyahnya. Musik jadi isi hidupnya. Musik bermetamorfosis menjadi agamanya. Dan para musisi menjadi para Nabi atau bahkan Tuhan yang disembahnya. Inilah yang terjadi di dunia Barat sekarang ini. Ketika Khilafah Islam jaya, musik tidak pernah menjadi sesuatu yang melalaikan. Bahkan kaum Muslimin pernah ikut berkontribusi dalam teknologi musik. Sejumlah besar alat musik yang dipakai di musik klasik Barat dipercaya berasal dari alat musik Arab. Lute berasal dari “al-‘ud”, rebec (pendahulu dari violin) dari “rabab”, guitar dari “qitara”, naker dari “naqareh”, adufe dari “al-duff”, alboka dari “al-buq”, anafil dari “al-nafir”, exabeba (flute) dari “al-syabbaba”, atabal (bass drum) dari “al-tabl”, atambal dari “al-tinbal”, sonajas de azofar dari “sunuj al-sufr”, dan masih puluhan alat musik lainnya yang ternyata berakar dari alat musik Arab. Mengapa bisa demikian? Apakah karena memang orang Arab dulu senang dengan musik? Ternyata kalau cuma itu halnya, pastilah musik mereka tidak akan mendunia. Penyebabnya ada dua: pertama, adalah kenyataan bahwa musik Arab itu dimainkan oleh masyarakat dari negeri yang luar biasa. Negeri Daulah Khilafah saat itu kenyataannya adalah negara paling kuat, paling adil, dan paling makmur di muka bumi. Maka orang-orang asing, termasuk orang-orang Barat sangat ingin meniru apa saja yang mereka lihat di negeri itu. Karena aqidah tidak kasat mata, yang kasat mata antara lain adalah alat musik, maka mereka meniru musik ini. Fenomena ini mirip saat ini banyak orang-orang dari negeri Muslim yang ingin meniru musik apa saja dari Amerika, yang diyakininya masih sebagai negara paling kuat, paling demokratis dan paling makmur di muka bumi. Kedua, adalah kenyataan bahwa teori musik banyak ditemukan oleh orang Islam. Meninski dalam bukunya Thesaurus Linguarum Orientalum(1680) dan Laborde dalam tulisannya Essai sur la Musique Ancienne et Moderne (1780) sepakat bahwa asal-muasal notasi musik Solfège (do, re, mi, fa, sol, la, si) diturunkan dari huruf-huruf Arab sistem “solmization” Durar-Mufassalat (dāl, rā’, mīm, fā’, ṣād, lām, tā’) yang bermakna “mutiara yang terpisah”. Setiap huruf memiliki frekuensi getar dalam perbandingan logaritmis dengan huruf sebelumnya. Maka tak heran bahwa di zaman peradaban Islam, para penemu teori musik ini umumnya juga matematikawan. Kehebatan musik dari negara Khilafah bertahan sampai abad-18 M, yakni ketika militer Utsmaniyah sebagai militer terkuat di dunia memiliki marching band yang hebat, bahkan ini dianggap marching-band militer tertua di dunia. Orang Barat menyangka, bahwa semangat jihad yang menyala-nyala dari tentara Utsmaniyah ini ditunjang atau bahkan dilahirkan oleh musik militernya. Padahal sejatinya, aqidah Islam dan semangat mencari syahidlah yang membuat militer ini jadi hebat. Ketika belakangan aqidah dan semangat mencari syahid ini mengendur, militer ini tinggal marching-band-nya saja yang hebat . Marching-band ini dijuluki dengan istilah Persia “Mehler”. Instrumen yang digunakan oleh Mehler adalah Bass-drum (timpani), Kettledrum (nakare), Frame-drum (davul), Cumbals (zil), Oboes, Flutes, Zuma, “Boru” (semacam terompet), Triangle dan “Cevgen” (semacam tongkat kecil yang membawa bel). Marching-band militer ini menginspirasi banyak bangsa Barat, bahkan juga menginspirasi para komponis orkestra Barat seperti Wolfgang Amedeus Mozart (1756-1791) dan Ludwig van Beethoven (1770-1827).[Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar]

Read Full Post »


Anda di rumah memiliki globe (bola dunia)?  Untuk apa?  Saat ini banyak pengasong menjual globe murah buatan Cina di beberapa perempatan Jakarta.  Sebagian memang didesain untuk dapat dipajang di meja kelas.  Sebagian lain untuk dipakai main lempar bola di kolam renang.

Tahukah Anda bahwa sekitar 1000 tahun yang lalu, globe adalah sebuah masterpiece.  Hingga saat itu belum semua ilmuwan sepakat bahwa bumi itu bulat.  Tetapi Abu Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Idris asy Syarif atau dikenal sebagai Al-Idrisi (1100 M – 1165 M) percaya, dan dialah pencipta pertama peta dunia dalam bentuk globe seperti yang kita kenal sekarang!

Sebenarnyalah, al-Idrisi mampu melakukan itu karena sejumlah politisi dan ilmuwan telah membukakan jalan.  Berabad sebelumnya, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun mendorong para ilmuwan Muslim untuk menerjemahkan buku-buku ilmiah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab.  Beberapa naskah penting Yunani yang diterjemahkan adalah: Almagest dan Geographia.

Khalifah Al- Makmun (813 M – 833 M) memerintahkan para geografer Muslim untuk mengembangkan geodesi, yaitu teknik mengukur jarak di atas bumi. Umat Islam pun akhirnya bahkan mampu menghitung volume dan keliling bumi. Lalu Al-Makmun memerintahkan untuk menciptakan peta bumi yang besar. Musa Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya akhirnya mampu menyelesaikan tugas ini pada tahun 830 M.  Kemudian Khawarizmi juga menulis kitab geografi yang berjudul “Surah Al-Ard” (tentang geomorfologi), sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab itu menjadi landasan ilmiah bagi geografer Muslim klasik. Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah kitab berjudul “Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni”.

Ilmu geografi pun makin berkembang. Di awal abad-10 M, Abu Zayd Al-Balkhi mendirikan akademi survei dan pemetaan di Baghdad.  Di abad-11 M, Abu Ubaid Al-Bakri menulis kitab “Mu’jam Al-Ista’jam” (Eksiklopedi Geografi) dan “Al-Masalik wa Al-Mamalik” (Jalan dan Kerajaan).

Al-Idrisi lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol.  Pada usia muda dia sudah gemar bepergian ke tempat-tempat yang jauh, ke Eropa, Asia dan Afrika, untuk mengumpulkan sendiri data dan fakta geografi.  Walhasil, pada usia di bawah 30 tahun, dia sudah menulis kitab geografi berjudul “Nuzhat al Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afat” (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh di Barat sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, “Geographia Nubiensis”.

Kemasyhuran dan kompetensi al-Idrisi didengar oleh Raja Roger II dari Sicilia (1129 M – 1140 M).  Ia mengundang dan memfasilitasi al-Idrisi untuk membuat peta dunia paling baru saat itu.  Al-Idrisi menyanggupi namun mengajukan syarat bahwa dalam peta itu ia ingin memasukkan data wilayah Sicilia yang pernah 200 tahun berada di bawah kekuasaan kaum Muslim sebelum Raja Roger berkuasa.  Raja Roger setuju.

Peta pesanan Raja itupun diwujudkan oleh al-Idrisi dalam bentuk globe dari perak seberat 40 kg yang secara cermat memuat pegunungan, sungai-sungai, kota-kota besar, dataran subur dan dataran gersang, lengkap dengan informasi tinggi di beberapa titik.  Karya ini dilengkapi sebuah buku berjudul “Kitab Al-Rujari” (Roger’s Book) sebagai bentuk penghormatan ke Raja Roger.

Kitab ini diakui dunia sebagai bentuk deskripsi paling teliti dan cerrmat tentang peta dunia pada abad pertengahan.  Bahkan buku tersebut menjelaskan keberadaan sebuah pulau yang terletak sangat jauh dan terpencil, seperti sebuah pulau es (mungkin Islandia), di mana perjalanan mencapai pulau itu sangat sulit karena dipenuhi kabut dan lautan yang sering dilewati bongkahan-bongkahan es berbahaya yang hanyut.

Ia juga menggambarkan tentang “Laut Gelap” yang kemudian dinamai Atlantik.  Al-Idrisi menyebut penduduk asli yang mendiami pulau di laut tersebut sebagai penduduk Inggris.

Peta dan globe buatan al-Idrisi, sekalipun di beberapa area masih kosong (karena saat itu belum ada informasi tentang keberadaan benua Amerika atau Australia), namun secara umum sudah memberikan gambaran yang akurat kepada masyarakat, terutama bangsa Eropa.  Mereka menggunakan peta itu untuk melakukan penjelajahan dunia – bahkan berakhir dengan penjajahan!

Selain membuat peta dunia dan globe, al-Idrisi juga menciptakan beberapa metode baru untuk mengukur garis lintang dan bujur, menulis kitab “Nuzhat al Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afat” yang berguna untuk orang-orang yang ingin mengadakan perjalanan menembus berbagai iklim.  Ini adalah sebuah ensiklopedia yang berisi peta yang digambar rinci dan informasi lengkap dari negara-negara yang pernah dikunjunginya.  Buku ini diterjemahkan dan diedarkan oleh orang Barat dalam bahasa Latin berkali-kali, dan pada tahun 1619 (hampir 4 abad kemudian!), diterbitkan di Roma dengan judul “Geographia Nubiensis” dalam versi cetak, karena saat itu mesin cetak sudah ditemukan.

Namun al-Idrisi masih menulis beberapa buku lagi.  Pertama sebuah ensiklopedia yang lebih komprehensif “Rawd-un-Naas wa-Nuzhat al-Nafs” (Kenikmatan Manusia dan kesenangan Jiwa), “Shifatul Arab” (Karakter bangsa Arab), dan “Kharithanul ‘Alamil ma’mur minal Ardh” (Sumber daya alam dunia).  Karya-karya ini juga diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain Spanyol (1793), Jerman (1828), Perancis (1840) dan Italia (1885).

[Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar]

Read Full Post »


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.  Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE


copas dari http://jamil.niriah.com/2010/06/08/puisi-habibie-untuk-sang-istri/

Read Full Post »


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Isfahan Nisfe Jahan. Slogan berbahasa Persia itu mempunyai arti ‘Isfahan Kota Separuh Dunia’. Gelar ini diberikan kepada kota Isfahan karena keindahannya. Mungkin agak berlebihan. Namun gelar itu tak salah juga disematkan mengingat muncul ketika Isfahan sedang mengalami pembangunan besar-besaran saat Dinasti Safawi berkuasa di wilayah Iran saat ini selama dua setengah abad (1499-1722).

Selain indah, Isfahan juga memiliki objek wisata budaya dan religi yang tak kalah hebat dari kota-kota lainnya di kawasan Timur Tengah. Keunikan Isfahan sebagai aset budaya Timur Tengah, tak lepas dari perjalanan sejarah yang amat panjang yang dimiliki kota ini.

Sejak berabad lalu, kota yang dibelah Sungai Zayandeh Rud ini terus mengalami perubahan budaya dengan mewariskan banyak bangunan tua berarsitektur budaya Islam. Karenanya tak mengherankan jika Isfahan ditetapkan sebagai ‘Ibukota Kebudayaan Islam’. Salah satu bangunan peninggalan Islam yang masih berdiri kokoh di sana adalah Masjid Imam (Imam Mosque).

Berada di kawasan Grand Bazaar Esfahan, Masjid Imam termasuk bangunan paling megah di kota Isfahan. Masjid ini kian indah dengan empat menara yang menjulang setinggi 160 kaki. Sebagian besar masjid ini dibangun dari bahan keramik dan batu piruz. Keindahan dan kemegahan Masjid Imam kian kentara dengan kehadiran sebuah kolam besar di tengah pelataran masjid. Karenanya, Masjid Imam menjadi center point areal Grand Bazaar Esfahan.

Masjid yang dibangun pada abad ke-17 M ini semula dikenal dengan nama Masjid Shah. Nama tersebut mengacu kepada penguasa Safawi yang memerintah di Isfahan pada masa itu, Sultan Shah Abbas I. Shah Abbas I merupakan salah satu kepala negara yang getol melakukan pembangunan fisik kota Isfahan. Konon, proses pembangunan masjid ini memakan waktu hingga 20 tahun lamanya. Arsitektur masjid dirancang oleh Ali Esfahani di atas lahan total seluas 12.264 meter persegi.

Masjid Imam merupakan masjid yang menerapkan pola arsitektur Seljuk dengan menampilkan lengkung-lengkung iwan yang membentuk sebuah beranda yang sangat besar yang terdapat di setiap sentral sisi-sisi pelataran. Pembangunan masjid ini diperkirakan menghabiskan 18 juta batu bata dan 472.500 keramik.

Hampir seluruh dinding masjid ditutup keramik mozaik dengan perpaduan warna biru (turquise) dan coklat, serta kuning. Ada juga penutup tiang dari marmer hijau yang tampak amat jernih. Motif keramik bervariasi dari bunga hingga pola geometris (perpaduan Indo Europian dan Sasanid).

Seperti halnya masjid-masjid lain di Iran, masjid ini pun mempunyai kubah besar yang ditempatkan di arah kiblat. Selain itu pada beberapa bagian masjid tampak kubah-kubah kecil yang juga khas bangunan rumah di Iran yang disebut ‘kiosk’. Menurut kamus, ‘kiosk’ bermakna pola bangunan di Iran dan Turki yang atapnya disangga banyak pilar.

Teknik ini sudah lama dipakai di kawasan Persia, bahkan penemunya pun diklaim para arsitek Persia kuno, walaupun lebih berkembang di Turki pada masa Dinasti Ottoman (Turki Utsmani). Para arsitek Persia ini dianggap berhasil menemukan teknik membangun kubah bundar di atas pondasi segi empat dengan keempat lengkung diagonalnya.

Kubah Masjid Imam ini oleh banyak arkeolog dan pengamat arsitektur klasik dipandang sebagai karya kubah dengan ubin berwarna masa Safawi yang paling brilian. Penilaian itu lebih karena pada keindahan motif dan komposisi warnanya. Selain itu, juga bentuk pecahan ubin yang mengikuti bentuk lengkungan pada bagian kubah dan juga pada menaranya yang berbentuk silinder.

Selain kedua unsur tadi (kubah dan menara), gerbang masuk utama masjid sebagian besar juga dilapisi oleh glazed tiles dengan pola lukisan yang tidak sederhana dengan warna yang beragam pula. Teknik ini, pada masa itu dianggap lebih efisien daripada menggunakan mosaik tile.

Masjid Imam juga menjadi salah satu bukti kecanggihan perkembangan teknologi arsitektur Islam pada abad pertengahan. Satu hal yang juga telah dipikirkan arsitek masjid pada abad ke-17 ini adalah bangunan tahan gempa. Arsitek Iran memahami bahwa wilayahnya termasuk ring of fire dan ring of earthquake. Jadi, mereka harus mendesain bangunan yang kokoh dan tak goyah oleh gempa. Buktinya, berabad-abad masjid itu masih tegak berdiri.

Di Masjid Imam, tiang-tiang utama penyangga bangunan dibuat beberapa lapis. Tiang dengan tinggi sekitar 50 meter dibagi menjadi empat bagian mulai dari dasar, bawah, tengah, dan penopang atap. Pada setiap pertemuan antarsisi terdapat besi dan kayu yang menyerupai per. Sehingga, jika gempa mengguncang, tiang hanya akan bergoyang dan bangunan pun tetap berdiri hingga sekarang.

Read Full Post »


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Bangunan dengan atap berbentuk kubah berwarna perak itu tampak mencolok dan menonjol di antara bangunan-bangunan lainnya di pusat bisnis kota Nairobi, Kenya. Bangunan tersebut merupakan simbol keberadaan komunitas Islam di negara Afrika Timur ini. Bangunan yang dimaksud tak lain adalah Masjid Jamia Nairobi.

Masjid yang terletak di Kigali Road yang berada di kawasan pusat bisnis kota Nairobi merupakan masjid terbesar di Kenya dan terindah di Afrika Timur. Ruang shalat di masjid tersebut mampu menampung hingga 12 ribu orang jamaah dalam waktu bersamaan.

Meski merupakan masjid terbesar di Kenya, namun sedikit sekali sumber literatur yang mengungkapkan tentang awal mula berdirinya bangunan Masjid Jamia Nairobi ini. Beberapa sumber literatur menyebutkan Masjid Jamia Nairobi dibangun pada tahun 1925. Pencetus pendirian pertama kali masjid ini adalah Sayyid Abdullah. Setelah beberapa tahun kemudian, masjid tersebut direhab berkat dana yang disumbangkan oleh Syekh Zaid bin Sulthan Al-Nahyan selaku kepala negara Uni Emirat Arab kala itu.

Masjid Jamia Nairobi dibangun dengan gaya khas Muslim Arab, lengkap dengan kubah hiasan marmer dan tulisan ayat-ayat Alquran pada dinding bagian dalam. Namun kekhasan yang dimiliki bangunan masjid ini justru terletak pada bagian kubah. Tiga buah kubah yang terdapat pada bangunan Masjid Jamia didesain menggunakan warna perak.

Dua buah bangunan menara kembar tampak mengapit bangunan utama masjid. Kedua menara ini berada di sisi kanan dan kiri bagian depan bangunan masjid. Dinding pada bagian luar bangunan utama masjid dan menara didominasi warna abu-abu dengan ornamen dari bahan plesteran.

Kendati Islam merupakan agama minoritas di Kenya, namun Nairobi merupakan tempat bagi bangunan tempat ibadah umat Islam ini. Selain Masjid Jamia, di ibukota Kenya ini juga terdapat banyak bangunan masjid lainnya. Salah satunya adalah Masjid Khoja, yang terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan di kota Nairobi. Keberadaan bangunan-bangunan masjid di kota Nairobi ini tidaklah berlebihan, mengingat sekitar 10 persen dari populasi penduduk Kenya adalah Muslim.

Ajaran Islam telah masuk ke wilayah Kenya saat ini sejak abad ke-2 Masehi melalui jalur perdagangan. Adalah para pelaut dari negeri-negeri Arab yang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Kenya. Bukti tertulis menunjukkan bahwa para pelaut Arab ini kerap melintasi Semenanjung Arab dan Pantai Timur Afrika, yang membentang dari wilayah Somalia ke Mozambik saat ini, untuk berdagang.

Beberapa di antara mereka kemudian ada yang tinggal dan menikah dengan penduduk lokal. Karenanya tak mengherankan jika penduduk Muslim di sana banyak ditemui di kawasan pesisir timur laut Kenya. Bukti awal kehadiran Islam di Kenya bisa dijumpai pada koleksi emas, perak dan koin yang disimpan di Masjid Lamu. Koleksi-koleksi tersebut berasal dari tahun 830.

Laporan lain menyebutkan bahwa Islam dibawa ke Kenya oleh dua orang kepala suku Arab asal Oman bernama Sa’id dan Sulaiman. Dikisahkan keduanya melarikan diri dari tanah kelahiran mereka, setelah menolak untuk menyerahkan diri kepada Khalifah Abdul Malik bin Marwan, penguasa kekhalifahan Islam saat itu. Turut serta dalam pelarian tersebut seluruh anggota keluarga dan pendukung keduanya. Mereka mendarat di Pate, sebuah pulau yang terletak di kepulauan Lamu, dan menetap di sana.

Pada abad ke-12 hingga abad ke-15, di wilayah timur laut Kenya mulai banyak berdiri kota-kota Islam. Kota-kota ini mengalami perkembangan pesat di bidang sosial keagamaan maupun ekonomi. Pada 1331, seorang penjelajah Muslim terkenal asal Maroko, Ibnu Batutah, mengunjungi Mombasa (kota kedua terbesar di Kenya, red) yang dijelaskan dalam sejumlah literatur sejarah sebagai sebuah kota dengan banyak jalan dan bangunan bertingkat pada masa itu.

Read Full Post »


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Masjid Jamiul Alfar adalah salah satu masjid tertua di kota Kolombo dan merupakan ikon pariwisata di ibukota Sri Lanka ini. Ciri khas desain arsitektur masjid ini adalah ornamen atau dekoratif dinding belang merah dan putih yang menghiasi bagian luar bangunan masjid.

Namun dibandingkan warna putih, warna merah tampak lebih mendominasi. Karenanya, ada yang menyebut masjid ini dengan nama Samman Kottu Palli (dalam bahasa Tamil asli) atau Rathu Palliya (dalam bahasa Sinhala), dan Masjid Merah (dalam bahasa Inggris).

Masjid ini berada di daerah sentra bisnis kota Kolombo, Pettah. Tepatnya di perempatan jalan Puraokottai, yang merupakan jalanan kedua terbesar di Kolombo. Mulai dibangun pada tahun 1908 dan selesai tahun 1909. Bangunan masjid dirancang oleh HL Saibo Lebbe.

Menurut website resmi yang dikelola oleh Masjid Jamiul Alfar, redmasjid.com, disebutkan bahwa keberadaan masjid ini bermula dari para saudagar Muslim asal India yang melakukan perjalanan bisnis dan singgah di wilayah ibu kota Sri Lanka saat ini. Karena seringnya mereka singgah di wilayah tersebut, maka keberadaan bangunan tempat ibadah menjadi persoalan serius kala itu.

Kemudian atas inisiatif para pedagang Muslim ini, maka kemudian dibangunlah sebuah masjid di sana. Keberadaan bangunan masjid ini, pada akhirnya mendorong beberapa di antara mereka untuk tinggal dan menetap di wilayah tersebut. Para keturunan pedagang Muslim asal India inilah yang saat ini menjadi bagian dari kelompok minoritas Muslim Sri Lanka.

Masjid Jamiul Alfar merupakan salah satu bangunan berarsitektur unik yang terdapat di Sri Lanka. Arsitektur yang terdapat pada bangunannya memperlihatkan kekayaan akan nilai kebudayaan Islam yang dipadu dengan kemegahan bangunan kastil di Inggris.

Sementara detil struktur bagian luar masjid yang didominasi warna merah dan putih menampilkan efek ‘kue lapis’. Namun, penggunaan warna merah tersebut tidak menghilangkan nilai spiritual yang terdapat pada bangunan megah ini. Justru warna merah mencolok ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dan para pelaku bisnis yang berkunjung ke Kolombo. Sedangkan dinding bagian dalam didominasi oleh warna hijau toska.

Tidak hanya menampilkan efek kue lapis berwarna merah-putih, sang arsitek juga berupaya mengedepankan pola lengkungan (archway) pada bagian atap dinding. Pola archway ini digunakan hampir pada setiap pintu masuk yang menghubungkan bagian halaman dalam masjid dengan ruang tempat shalat di lantai dasar.

Seperti lazimnya bangunan sebuah masjid, Masjid Jamiul Alfar juga memliki menara. Jumlah keseluruhan menara yang terdapat pada bangunan masjid ini sebanyak empat belas buah, terdiri dari dua menara berukuran sedang dan sisanya berukuran kecil. Lokasinya yang berada tepat di tengah pusat keramaian, membuat di setiap sudut pada bagian atap masjid terdapat sebuah pengeras suara yang di waktu-waktu tertentu mengumandangkan suara adzan.

Pada saat awal dibangun tahun 1908, masjid ini memiliki kapasitas 1500 orang jamaah. Namun seiring dengan perkembangan Islam di Sri Lanka, jumlah jamaah shalat Masjid Jamiul Alfar terus bertambah. Maka di tahun 1975, dilakukan perluasan terhadap bangunan masjid, yakni dengan membangun gedung tambahan yang berdekatan dengan bangunan lama masjid.

Dengan perluasan tersebut, kini kapasitas keseluruhan bangunan masjid mampu menampung sekitar 5.000 jamaah secara bersamaan dan menjadikan Masjid Jamiul Alfar sebagai masjid terbesar di Sri Lanka. Pada hari biasa, jumlah jamaah shalat di masjid ini mencapai 2 ribu orang. Sedangkan di bulan Ramadhan tercatat lebih dari 3 ribu jamaah memadati masjid ini pada saat waktu shalat tiba.

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: