Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Peradaban Islam’ Category


Harun ar-Rasyid, Khalifah Abbasiyyah yang memerintah sejak tahun 170-193 H. Selain kecintaannya kepada ulama dan ilmu, beliau juga dikenal sebagai khalifah yang sangat tegas dan pemberani. Sebagaimana penuturan suhunya sejarah (Syaikh at-Tarikh), at-Thabari, Khalifah yang satu ini memang dikenal rajin berperang. Beliau membagi waktu satu tahun untuk berperang, dan tahun berikutnya untuk berhaji. Itulah Khalifah Harun ar-Rasyid.

Pada tahun 186 H, beliau menyerang Shaifah dengan panglimanya, al-Qasim bin ar-Rasyid. Pada tahun yang sama, beliau pun mengutus Ibn Ja’far bin al-Asy’ats ke sana, dan berhasil mengepung benteng Sinan. Terjadilah perjanjian damai antara Khilafah Abbasiyah, dengan Romawi, yang kala itu masih dipimpin oleh Ratu Rini. Dia pun digulingkan, dan hanya memerintah selama 5 bulan. Setelah itu, Romawi jatuh ke tangan Nakfur. Bagi Nakfur, Ratu Rini adalah Ratu yang lemah, sehingga dia tunduk dan mau membayar Kharaj kepada Khilafah Abbasiyah, dalam hal ini Khalifah Harun ar-Rasyid.

Begitu dilantik menjadi Raja, Nakfur pun menulis surat kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, untuk meminta kembali harta yang pernah dibayarkan oleh Ratu Rini, setelah keduanya sepakat melakukan perjanjian damai. Maka, Khalifah agung itu pun membalas surat Nakfur, bukan dengan kertas atau kulit lain, tetapi dengan kertas atau kulit yang dipakai Nakfur, yaitu ditulis di belakangnya: “Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Jawabannya seperti yang kamu lihat, bukan seperti yang kamu dengar.” Surat itu pun dikirim bersama dengan pasukan Khilafah. Pada saat itu, Harun ar-Rasyid sendiri memimpin pasukannya hingga sampai di Kota Heraklius, sehingga terjadilah peperang yang sangat terkenal dan menjadi momentum penaklukan yang sangat nyata.

Emperium Romawi itu pun tak kuasa membendung gempuran pasukan Khilafah, akhirnya Nakfur pun meminta diadakannya perundingan dan bersedia membayar Kharaj tiap tahun, sebagaimana yang pernah dibayar oleh Ratu Rini. Khalifah Harun ar-Rasyid pun bersedia mengabulkan keinginannya. Tetapi, Nakfur berkhianat dan mengingkari perjanjian tersebut.

Karena peristiwa ini, Khalifah Harun ar-Rasyid pun mengirim 135.000 tentaranya ke bumi Romawi, sehingga tahun 196 H Allah pun memberikan kemenangan kepada mereka. Beliau singgah di Kota Heraklius. Kota itu pun dikepung selama 30 hari, dan kota itu akhirnya jatuh ke tangan kaum Musilm. Penduduknya dijadikan sebagai sabaya (tawanan) dan harta kekayaan yang ada di sana dijadikan ghanimah bagi mereka. Dalam peperangan tersebut, menurut Ibn Khaldun, tentara Nakfur yang terbunuh sebanyak 40.000 orang.

Sementara pasukan kaum Muslim yang lain di bawah pimpinan Syarahbil bin Ma’an bin Zaidah berhasil menaklukkan benteng Shaqalibah dan Disah. Sementara pasukan Yazid bin Mukhlid berhasil menaklukkan benteng Shafshaf dan Quniah. Ini diikuti dengan pengiriman armada maritim di sepanjang pantai Syam, Mesir hingga Cyprus (Turki/Yunani). Pasukan Romawi di sepanjang wilayah itu pun kalah, sehingga 17.000 penduduk di sana berhasil dijadikan sebagai sabaya oleh pasukan kaum Muslim. Di dalamnya termasuk Uskup Cyprus, yang akhirnya dibebaskan dengan membayar tebusan sebesar 2.000 Dinar (Rp. 2,5 milyar).

Itulah pelajaran berharga yang harus dibayar Emperium Romawi ketika berani dengan Khilafah. Emperium Barat juga akan membayar harga yang mahal atas semua kebijakan mereka di dunia Islam selama ini, ketika Khilafah ini tegak kembali.
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/2187-44-harun-ar-rasyid-dan-anjing-romawi-.html

Advertisements

Read Full Post »


Tidak ada yang menyangkal keberanian Harun ar-Rasyid. Sikapnya yang begitu berani kepada Nakfur hingga kini menghiasi sejarah umat Islam. Tetapi, di balik sikapnya yang terkenal sangat pemberani, dia pun luluh di hadapan ulama. Bahkan, dia datang bersama kedua anaknya ke Madinah, sengaja untuk mendengarkan Imam Malik mengajarkan kitabnya, al-Muwattha’.

Ketika sampai di Madinah, al-Barmaki, salah seorang pembantu (wazir)-nya, menghadap Imam Malik dan berkata kepada dia, “Bawakanlah kitab yang Anda karang kepadaku, hingga aku bisa membacakannya dari Anda kepada baginda.”

Imam Malik pun menjawab, “Sampaikanlah salamku, dan katakanlah kepadanya, ‘Ilmu itu harus dikunjungi bukan mengunjungi. Ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi’.”

Al-Barmaki pun kembali menghadap sang Khalifah seraya berkata, “Wahai Amir al-Mukminin, telah sampai kepada penduduk Irak, bahwa Baginda telah menghadap kepada Imam Malik, dan dia meninggalkan Baginda. Bulatkanlah tekad Baginda terhadap dia, hingga dia datang menghadap Baginda.”
Datanglah seseorang menasehati sang Khalifah seraya berkata, “Wahai Amir al-Mukminin, Allah telah menjadikan Baginda dalam posisi seperti ini karena ilmu Baginda. Janganlah Baginda menjadi orang yang pertama kali menghinakan ilmu, sehingga Baginda pun akan dihinakan oleh Allah. Saya melihat ada orang yang kedudukan dan rumahnya tidak seperti Baginda, tetapi dia memuliakan dan meninggikan ilmu ini. Mestinya Baginda lebih wajib memuliakan dan meninggikan ilmu saudara sepupu Baginda.” Harun pun menangis (as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, juz II/692).

Khalifah agung itu pun akhirnya datang di majelis Imam Malik untuk mendengarkan pembacaan kitabnya, al-Muwattha’. Malang benar sang Khalifah, ketika mendengarkan sang Imam membacakan kitabnya, dia pun duduk sambil bersandar, maka Imam Malik pun menegurnya dan melarangnya bersandar. Karena sikap seperti itu di majelis ilmu dianggap tidak beradab (Ruh al-Bayan, juz IX/529). Sang khalifah pun taat dan patuh kepada ulama agung itu, meski dia adalah khalifah yang sangat disegani.

Suatu ketika, sang Khalifah pun mengutarakan niatnya untuk menghancurkan bangunan Ka’bah yang dibangun al-Hujjaj bin Yusuf, salah seorang wali di zaman Khilafah Ummayyah, dan mengembalikannya kepada bangunan yang dibuat oleh Abdullah bin Zubair. Imam agung itu pun menasehati sang khalifah, “Hanya kepada Allah saya sampaikan urusan Anda. Wahai Amirul Mukminin, janganlah Anda menjadikan Baitullah ini sebagai mainan para raja! Tak seorang pun dari mereka, kecuali ingin menghancurkan bangunan Baitullah, sehingga hilanglah wibawa (penghormatan terhadap Baitullah) dari benak manusia.” (Ruh al-Bayan, juz I/229). Khalifah yang mulia itu pun mengikuti nasihat sang Imam.

Harun ar-Rasyid pun dikenal dengan penghormatannya yang luar biasa kepada ilmu dan ulama. Dia selalu memberikan hadiah kepada ulama yang mengingatkannya. Dia pernah memberikan kepada Ibn ar-Rabi’ 1.000 Dinar (Rp. 1,356 juta), “Ini 1000 Dinar. Ambillah, dan belanjakanlah kepada keluarga Tuan. Gunakanlah untuk menguatkan ibadah Tuan.” Ibn ar-Rabi’ berkata, “Subhanallah, saya tunjukkan Baginda kepada jalan keselamatan, dan Baginda membalas saya dengan pemberian seperti ini?” Khalifah agung itu pun memuji Ibn ar-Rabi’ sebagai sayyid al-Muslimin (penghulu kaum Muslim) pada zamannya, karena jasanya menunjukkan dia kepada kebenaran. Benarlah ungkapan ulama’ yang menyatakan, “Jika ulama’ zuhud dalam urusan dunia, maka para diktator pun tunduk kepadanya.” (al-Badri, al-‘Ulama’ Baina al-Hukkam, h. 88).
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/2124-43-harun-ar-rasyid-dan-ulama.html

Read Full Post »


Al-Mahdi, Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Manshur (158-169 H) adalah khalifah ketiga dari Khilafah ‘Abbasiyah. Dia adalah putra Abu Ja’far al-Manshur, Khalifah kedua Khilafah ‘Abbasiyah. Al-Mahdi dikenal dengan sifatnya yang dermawan dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Dialah Khalifah pertama yang membuat kebijakan untuk menyusun beberapa kitab debat (Kutub Jadal) untuk menyerang kaum Zindiq dan Atheis, agar pandangan-pandangan mereka tidak merusak akidah umat Islam. Karena itu, dia banyak memonitor pemikiran, aktor dan gerak-gerik mereka. Sikapnya terhadap kaum Zindiq dan Atheis pun sangat tegas. Banyak di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati.

Selain itu, dialah orang yang mendirikan Diwan al-Barid (urusan pos dan komunikasi) mulai dari Madinah, Yaman, Makkah hingga ke al-Hadhrah yang diangkut dengan keledai dan unta. Menurut ad-Dzahabi, beliaulah Khalifah yang pertama kali membangun Diwan tersebut untuk pengiriman surat dan dokumen dari Hijaz ke Irak. Ini beliau lakukan pada tahun 166 H.

Pada tahun berikutnya (167 H), dia menginstruksi-kan perluasan Masjid al-Haram, sehingga beberapa bangunan bisa dimasukkan di dalamnya.
Sebagai Khalifah, al-Mahdi pun menguasai ditil hukum syariah yang diterapkannya. Suatu ketika penduduk Bashrah, Irak, berselisih karena memperebut-kan salah satu anak sungai di Bashrah. Khalifah al-Mahdi pun berkata, “Sesungguhnya tanah milik Allah yang ada di tangan kami adalah milik kaum Muslim. Maka, apa yang tidak bisa dijual, harganya harus dikembalikan kepada seluruh kaum Muslim dan untuk kepentingan mereka. Karenanya, tidak ada jalan bagi siapapun untuk mengusainya.” Penduduk Bashrah pun menyanggahnya, “Sungai ini adalah milik kami berdasarkan keputusan Rasulullah SAW karena baginda pernah bersabda, “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu adalah miliknya.” Ini adalah tanah mati.” Ketika mendengar Nabi disebut, Khalifah al-Mahdi pun mengusapi pipinya dengan debu, seraya berkata, “Aku mendengar apa yang beliau sabdakan, dan aku mentaatinya.” Tidak lama kemudian dia kembali dan berkata, “Tanah ini tetap akan menjadi tanah mati, sehingga aku tidak akan mengambilnya. Lalu, bagaimana mungkin tanah ini dianggap tanah mati, sementara airnya mengalir di sekelilingnya? Karena itu, kalau mereka bisa memberikan bukti untuk tanah ini, aku akan serahkan kepada mereka..”

Sejarah juga mencatat, bahwa wilayah Irbid, India pun berhasil ditaklukkan dengan paksa pada zamannya.
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/1991-khalifah-al-mahdi-dicintai-rakyat-karena-kebijakannya.html

Read Full Post »


Meski dia Khalifah kedua dari Khilafah Abbasiyyah, tetapi dialah pendiri yang sesungguhnya Khilafah Abbasiyyah, yang menjadi mercusuar dunia, pusat peradaban, kebudayaan dan ibukota dunia selama 5 abad. Meski menjadi khalifah di masa transisi, dari Bani Umayyah ke Bani Abbasiyyah, dia berhasil melewati semua rintangan dengan bijak dan gemilang. Dia akhirnya berhasil membangun sebuah negara dengan kesadaran total, kerja keras yang luar biasa, dan politik yang bijaksana.

Dia menjadi Khalifah sejak Dzulhijjah 136 H/Juni 754 M ketika berusia 41 tahun. Dia memindahkan ibukota Khilafah dari Damaskus, Suriah, ke Baghdad, Irak. Baghdad dipilih sebagai ibukota baru untuk membuka lembaran sejarah baru Khilafah yang jauh dari sejarah kelam di masa lalu. Dipilihlah Baghdad, tempat yang terletak di Pantai Dajlah. Dialah yang meletakkan batu pertama pembangunan kota itu pada tahun 145 H/762 M. Dengan mempekerjakan sejumlah insinyur senior dan pekerja, hanya dalam waktu 4 tahun dia merampungkan pembangunan Kota Baghdad sehingga secara resmi ibukota Khilafah dipindahkan ke sana tahun 149 H/766 M. Khalifah, istri dan apatur administrasi negara dipindahkan ke sana pada tahun yang sama. Kota Baghdad pun dia beri gelar dengan Madinatu as-Salam (Kota Keselamatan). Tidak hanya itu, dia pun memperluas tepi barat Sungai Dajlah pada tahun 151 H/768 M dengan mendirikan kota baru di bagian timurnya dengan nama Rashafah. Di kota ini, dia membangun benteng, parit, masjid dan istana.

Peninggalan al-Manshur yang spektakuler untuk pengembangan sains dan teknologi, serta pusat peradaban adalah Baitu al-Hikmah. Ini merupakan tempat yang terletak di jantung istana Khilafah, di Baghdad. Dia sendiri yang mengurus Baitu al-Hikmah, yang sekaligus menujukkan perhatian yang luar biasa pada sains, teknologi dan para ulama dan intelektualnya. Melalui Baitu al-Hikmah ini dia melakukan proyek penerjemahan buku-buku peninggalan Yunani Kuno, seperti kedokteran, teknis engineering, matematika dan astronomi ke dalam bahasa Arab. Di antara penerjemah itu ada juga orang Kristen. Baitu al-Hikmah ini tetap bertahan hingga Baghdad diluluhlantakkan oleh tentara Mongol tahun 656 H/1258 M.

Untuk mempertahankan negaranya, setelah pilar-pilarnya berdiri kokoh, al-Manshur pun mulai melakukan ekspansi ke luar negeri khususnya menghadapi Bizantium. Akhirnya, Bizantium pun meminta dilakukan perjanjian damai pada tahun 149 H/766 M, dan permintaan itupun dipenuhi oleh sang Khalifah. Meski tampak sikap Khalifah al-Manshur begitu tegas dan garang, tetapi dia senantiasa mendengarkan pandangan ulama dan menerima mereka dengan lapang dada, meski terdengar keras. Itulah yang dia tunjukkan kepada Sufyan at-Tsauri, Amru bin Ubaid, Ibn Abi Dzuaib, al-Auzai dan lain-lain. Adapun sikap dia yang tegas terhadap Imam Abu Hanifah dan Malik, karena di mata sang Khalifah, kedua ulama ini dianggap sebagai pendukung Alawiyah. Khalifah agung ini pun meninggal dunia pada 6 Dzulhijjah 158 H/7 Oktober 755 M, ketika sedang berihram untuk haji dan umrah. Dia dimakamkan di makam al-Mala (Sumur Maimun), di atas kota Makkah.
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/1900-41-abu-jafar-al-manshur-membangun-baghdad-pusat-khilafah-dan-peradaban-.html

Read Full Post »


Sejak Khalifah ‘Umar bin Khatthab memperkenalkan kebijakan tentang Diwan, yaitu tata administrasi dan pencatatan, maka Khalifah Mu’awiyah telah melakukan pengembangan dan penyesuaian yang diperlukan. Untuk melaksanakan tugas ini, Mu’awiyah telah memanfaatkan jasa sejumlah orang Kristen, yang sebelumnya bekerja pada pemerintahan Bizantium, seperti Sarjun bin Manshur dan anaknya, Manshur bin Sarjun, untuk mengurus Diwan al-Mal (Hallaq, Dirasah fi Tarikh al-Hadharah al-Islamiyyah, hal. 34).

Mu’awiyah pun memulai dengan dua bidang, yaitu Diwan al-Khatim (Stempel) dan Diwan al-Barid (Pos). Sebelumnya, kaum Muslim sudah mengenal Diwan al-Jundi (Tentara), Diwan al-Kharaj (Kharaj) dan Diwan Rasail (Surat). Mu’awiyah sengaja membentuk Diwan Khatim ini agar tidak ada satu pun surat keluar, yang tanpa stempel, sehingga isinya pun hanya diketahui oleh Khalifah, serta tidak bisa dipalsukan dan diubah-ubah. Mengingat, sebelumnya ada kasus ketika surat Khalifah dipalsukan di belakang sang Khalifah. Selain itu, Diwan Khatim ini juga menerima laporan yang dikirimkan oleh para wali (pimpinan daerah) kepada Khalifah (at-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, juz VI, hal. 184).

Sementara Diwan al-Barid dibentuk oleh Mu’awiyah ketika wilayah Khilafah sudah sedemikian luas dan mulai dirasakan perlunya pengiriman surat-surat dengan cepat agar hubungan antara Khalifah dengan para walinya di daerah-daerah bisa berjalan dengan cepat. Diwan ini mempunyai dua fungsi: Pertama, mengirimkan surat dari dan kepada Negara Khilafah. Kedua, para pegawai Diwan al-Barid ini juga bisa menjadi mata bagi Khalifah untuk mengawasi para wali dalam menjalankan tugas dan langkah mereka. Para pegawai Diwan ini bisa menyampaikan perihal aktivitas dan langkah para wali kepada Khalifah sehingga Khalifah mengetahui kondisi wilayahnya dan peristiwa yang tengah terjadi di sana.

Mu’awiyah telah mengeluarkan dana besar untuk mengembangkan Diwan ini dan mengaktifkannya dengan menyediakan sejumlah pegawai dan pos-pos yang dilengkapi berbagai fasilitas yang diperlukan untuk mengirimkan berita. Diwan ini kemudian menjelma menjadi sarana penting dalam pengelolaan urusan negara. Namun, tetap harus dicatat di sini, bahwa Diwan ini hanya melakukan aktivitas resmi dan mengirimkan laporan-laporan resmi dari negara, bukan yang lain.

Semua kebijakan Mu’awiyah ini akhirnya memperkuat pemerintahan Negara Khilafah, sehingga pada zaman Khilafah ‘Amawiyyah inilah, dikenal dengan era penaklukan besar-besaran.

Fakta sejarah ini menggambarkan bahwa jauh sebelum administrasi modern berkembang, Islam telah mempraktikkan administrasi secara praktis dalam tata negara. Bahkan penerapannya jauh lebih ‘modern’ dibandingkan dengan yang dibayangkan orang pada saat sekarang.

Inilah yang menjadikan Islam mampu mengatur negara yang sangat luas dan terpencar-pencar. Tanpa administrasi tatapraja yang baik mustahil sebuah negara mampu menjaga eksistensinya.

Negara Islam bukanlah negara yang antikemajuan. Islam membolehkan mengambil ilmu-ilmu praktis—bukan hadlarah/peradaban—dalam meraih kejayaan dan mengembangkannya. Inilah yang kemudian terbukti, daulah Islam menjadi mercusuar dunia dalam peradaban.
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/1836-37-kebijakan-administratif-khalifah-muawiyah-bin-abi-shafyan.html

Read Full Post »


Sejak negara Islam berdiri di Madinah, dan Nabi menjadi kepala negara Islam pertama, umat Islam sudah mengenal uang Dinar Bizantium, dan Dirham Kisra. Kedua uang dari dua negara yang berbeda ini mereka gunakan, tetapi bukan berpatokan pada nominalnya, melainkan berpatokan pada berat timbangannya. Mereka menggunakan timbangan penduduk Mekkah sebagai standar kedua mata uang tersebut. Sebagaimana sabda Nabi, “Timbangan (yang dipakai) adalah timbangan penduduk Mekkah, sedangkan takaran (yang dipakai) adalah takaran penduduk Madinah.” (HR Abu Dawud)

Ketika itu, 1 Dinar Bizantium sama dengan 1 mitsqal, atau 4,25 gram emas, sedangkan 1 Dirham Kisra sama dengan 7 / 10 mitsqal, atau 2,975 gram perak. Berat timbangan Dinar dan Dirham ini telah digunakan sejak sebelum Islam, dan ketika Nabi diutus dan menjadi kepala negara, timbangan yang sama masih tetap digunakan. Penggunaan Dinar dan Dirham dengan standar mitsqal ini digunakan sejak zaman Nabi, Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar bin Khatthab. Pada tahun 20 H, atau delapan tahun pemerintahan ‘Umar, beliau tetap menggunakan Dinar Bizantium dan Dirham Kisra, hanya dengan tambahan tulisan Arab, seperti “Bismillah” atau “Bismillahi Rabbi”. Kebijakan ini tetap berlanjut sampai zaman Khilafah ‘Amawiyah.

Pada tahun 75 H, ada yang mengatakan 76 H, Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan (65-86 H), Khalifah’ Amawiyyah kelima, telah mencetak mata uang sendiri. Ia mencetak Dirham dengan bentuk dan model Islam yang khas, berisi teks Islam, diukir dengan tulisan Kufi. Sejak itu, kaum Muslim memiliki mata uang sendiri, dengan model dan bentuk yang Islami, dan bebas dari bentuk dan model yang lain. Setelah itu, kaum Muslim pun meninggalkan Dinar Bizantium dan Dirham Kisra (‘Abdul Qadim Zallum, al-amwal fi Daulati al-Khilafah, hal. 198-201).

Al-Baladzuri, dalam kitab Futuh al-Buldan, menceritakan dari ‘Utsman bin’ Abdillah dari bapaknya menuturkan, “Aku datang ke Madinah dengan membawa Dinar dan Dirham Abdul Malik bin Marwan, sementara di sana ada sejumlah sahabat Nabi SAW dan para tabiin yang lain , namun mereka tidak ada yang mengingkarinya. “Itulah jasa Khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan. Ia juga dikenang bukan karena jasanya mencetak uang pertama kali dalam Islam, tetapi juga dikenal dengan jasanya memberikan titik pada huruf-huruf dalam mushaf. Ia jugalah Khalifah yang membangun Masjid Kubah Emas di Palestina. Membangun kembali Ka’bah, dan mengakhiri fitnah yang terjadi antara keluarga Bani ‘Amawiyyah dengan Sayyidina’ Ali. Karena itu, pada zamannya, juga dikenal sebagai tahun rekonsilisasi yang kedua, atau ‘Am al-Jama’ah ats-Tsaniyyah, tepatnya tahun 73 H.

Keberadaan Dinar dan Dirham itu terus bertahan sampai Daulah Islam runtuh. Mata uang emas ini terbukti mampu menjaga stabilitasnya karena nilai nominal dan intrinsiknya sama. Ini sangat berbeda dengan mata uang kertas yang ada sekarang. Nilai nominal dan intrinsiknya sangat berbeda sama sekali. Sebagai kertas, uang kertas tak bernilai sama sekali jika diperjualbelikan.

Di sinilah masa keemasan Islam dengan Dinar dan Dirhamnya. Kapan ini diberlakukan kembali, stabilitas moneter akan aman. Saatnya kembali ke mata uang emas dan perak.

sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/1766-36-abdul-malik-bin-marwan-berjasa-mencetak-uang-islam-.html

Read Full Post »


Nabi pernah bersabda: “Jika aku perintahkan kepada kalian dalam urusan agama kalian, maka ambillah. Jika aku perintahkan kepada kalian dalam urusan dunia kalian, maka aku adalah manusia seperti kalian. “(HR Muslim). Hadits benar-benar dijadikan pedoman para sahabat dan generasi terdahulu. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqas menaklukkan Persia, beliau menemukan sejumlah buku-buku filsafat Persia. Ia ingin menyalin dan memanfaatkannya. Ia lalu meminta izin kepada Khalifah ‘Umar bin al-Khatthab.

Tak lama kemudian, ‘Umar pun mengirimkan surat kepada Sa’ad yang isinya: “Jika kalian menginginkan kebaikan, maka cukuplah dengan Alquran dan as-Sunnah. Karena itu, buang dan lemparkanlah buku-buku (filsafat Persia) itu ke laut. “Sa’ad pun membuang dan melemparkannya ke laut. Demikian, sebagaimana dituturkan oleh Ibn Khaldun dalam magnum opus-nya, Muqaddimah. Sikap ini menunjukkan ketegasan Khalifah terhadap urusan agama, ideologi, pandangan hidup, tsaqafah dan hadharah yang bukan berasal dari Islam. Sama sekali tidak ada kompromi.

Namun, sikap yang berbeda ditampilkan oleh Khalifah ‘Umar, ketika mengambil dan menggunakan diwan – yaitu sistem pengarsipan dengan kantor, para pencatat dan tempat penyimpanan arsip-dari Romawi. Tepatnya, pada tahun 20 H, ketika Abu Hurairah datang membawa banyak harta rampasan dari Bahrain, sebanyak 500.000 Dirham (41,666 Dinar), atau setara dengan Rp. 53,124,150,000. Setelah memastikan kebenaran adanya harta tersebut, Khalifah ‘Umar pun mengumumkannya ke publik, dan berarti membaginya. Namun, ada usulan dari salah seorang sahabat, agar terlebih dahulu dilakukan sistem pengarsipan, agar bisa diketahui siapa yang sudah menerima dan belum, sehingga tidak menjadi fitnah di kalangan masyarakat. Usulan ini dikuatkan oleh al-Walid bin Hisyam bin al-Mughirah, berdasarkan pengalamannya menyaksikan bagaimana raja-raja Romawi melakukan tata pengarsipan tersebut. Demikian dituturkan oleh al-Waqidi dalam al-Maghazi-nya.

Sejak saat itu, negara Khilafah telah menerapkan sistem pengarsipan yang rapi. Ada Diwan al-‘atha ‘wa al-jundi (arsip untuk pos pemberian dan tentara) yang ditulis dalam bahasa Arab. Ada Diwan al-Istifa ‘wa jibayat al-amwal (arsip pembayaran dan pengumpulan harta), yang ditulis sesuai dengan wilayahnya. Di wilayah bekas kerajaan Persia, ditulis dalam bahasa Persia, sementara di wilayah bekas kerajaan Romawi, ditulis dengan bahwa Romawi. Baru kemudian diseragamkan dalam bahasa Arab pada zaman ‘Abdul Malik bin Marwan.

Begitulah, negara Khilafah di masa ‘Umar, telah mangambil dan mengadopsi sistem pengarsipan, yang nota bene bukan urusan agama, ideologi, pandangan hidup, tsaqafah dan hadharah, melainkan urusan teknis pencatatan dan pengarsipan. Sistem ini diadopsi meski bukan berasal dari kaum Muslim, karena tidak terkait dengan agama, ideologi, pandangan hidup, tsaqafah dan hadharah mereka, melainkan ilmu pengetahuan yang bersifat universal. Inilah yang oleh Nabi, disebut dalam haditsnya sebagai urusan dunia.

sumber : http://www.mediaumat.com/cermin/1736-35-filsafat-dicampakkan-sistem-pengarsipan-diambil-.html

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: