Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘my opinion’ Category


Akhir-akhir ini, dugaan korupsi di kalangan PNS kembali menyeruak ke permukaan. Mereka yang seharusnya melayani masyarakat malah diduga melakukan praktek korupsi. Beberapa di antaranya bahkan termasuk kategori PNS muda dengan rekening kekayaan yang mencurigakan. Dirjen Pajak begitu pun PPATK sudah melaporkan kasus ini ke kepolisian, namun laporan itu malah dihentikan (SP3). (Tempo.co 27/12/2011)

Temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) soal banyaknya pegawai negeri sipil (PNS) muda yang memiliki kekayaan fantastis terus diperdalam. Wakil Ketua PPATK Agus Santoso menyebutkan, jumlah PNS berusia muda yang doyan berkorupsi dan hartanya setara dengan yang dimiliki Gayus Tambunan (pegawai Ditjen Pajak golongan III A dengan kekayaan lebih dari Rp100 miliar) lebih dari 10 orang.

Ternyata bukan cuma satu tapi ada lebih banyak “Gayus” lainnya di negeri ini. Bukan hanya tanaman, korupsi juga tumbuh subur di Indonesia. Keberadaan lembaga ‘super body’ Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun seperti tak mampu menyelesaikan persoalan akut ini. Kepolisian dan kejaksaan pun setali tiga uang. Meski ada kasus-kasus yang mencuat ke publik dan sempat ditangani secara hukum, itu hanyalah sebagian kecil dari mega korupsi yang telah terlanjur menggurita.

Dan pemberantasan korupsi tampak berjalan di tempat. Tidak ada efek yang signifikan dari berbagai penanganan yang sudah dilakukan. Tak mengherankan jika nilai Indonesia dalam pemberantasan korupsi masih di bawah 5 dari rentang skor nol sampai 10 berdasarkan Corruption Perceptions Index (CPI) terhadap 183 negara yang diumumkan oleh Transparency International pada bulan Desember 2011. Indeks terakhir ini menunjukkan kenaikan 0,2 dibandingkan tahun lalu. Artinya tidak ada perubahan signifikan. Ini sungguh bukan prestasi yang membanggakan.

Bukan hanya pejabat yang duduk di atas kursi pemerintahan saja yang punya prestasi buruk ternyata generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah juga. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat 339 kasus tawuran pelajar terjadi sepanjang 2011. Kasus tawuran pelajar ini meningkat 128 kasus jika dibandingkan tahun 2010.

“Terdapat 82 pelajar tewas akibat kasus tawuran ini. Sedangkan selebihnya ada yang mengalami luka berat dan ringan,” kata Sekjen Komnas PA, Samsul Ridwan, dalam jumpa pers catatan akhir tahun di Kantor Komnas PA, Jl TB Simatupang, Jakarta, Selasa (20/12/2011). (Detiknews.com)

Mengapa mereka para pelajar yang merupakan generasi muda harapan bangsa namun kondisinya jauh dari karakter  pemimpin bangsa? Pantas saja jika nanti mereka menduduki kursi jabatan di pemerintahan mereka tidak mampu menjadi pemimpin yang memajukan bangsa, mereka hanya terkonsentrasi pada pemuasan egoisme pribadi, mereka pun dengan sukarela menggadaikan negerinya diperas dan dijajah oleh penjajah asing demi untuk memperkaya dirinya dan keluarganya.

Jika kita menilik kondisi generasi yang ada di Indonesia, maka nampaknya masih jauh dari gambaran generasi berkualitas. Pada level akar rumput kita dapati banyak terjadi konflik horisontal baik yang dilakukan pelajar bahkan mahasiswa, serta pudarnya pergerakan mahasiswa yang kritis, cerdas, dan pro rakyat. Sementara di tingkat elit, fenomena munculnya pemimpin-pemimpin muda tanpa integritas pada pentas politik adalah problem serius. Walhasil, di negeri ini sangat langka mendapati sosok pemimpin berintegritas yang bisa melindungi rakyat. Seluruh realita ini bukan lagi sekedar kasus rendahnya kualitas, namun mengindikasikan secara sistemik bangsa ini telah kehilangan generasinya yang berkualitas.

Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari pentingnya melahirkan generasi berkualitas. Karena kualitas generasi pada dasarnya menentukan kualitas dari bangsa atau peradaban itu sendiri. Bangsa dengan jumlah generasi yang besar namun tidak diiringi dengan kualitas yang memadai, hanya akan terbelenggu dengan banyak masalah, sebaliknya jika generasi dalam jumlah besar tersebut berkualitas, maka akan menjadi aset yang berharga bagi bangsa itu sendiri dan juga peradaban manusia pada umumnya.

Generasi berkualitas yang ideal adalah generasi yang melahirkan barisan pemimpin bangsa yang tidak hanya memiliki keahlian, melainkan juga memiliki kepribadian istimewa yang ditunjukkan oleh integritasnya pada nilai-nilai kebenaran. Kepribadian ini merupakan pancaran dari kesatuan pola pikir dan pola sikap yang benar dan luhur. Generasi seperti inilah yang bisa diharapkan menjadi penerus bangsa, yang akan membawa bangsanya menjadi bangsa besar, kuat, dan terdepan. Generasi seperti ini bila menjadi pemimpin tidak akan menggadaikan negerinya diperas dan dijajah oleh penjajah asing demi untuk memperkaya dirinya dan keluarganya. Tetapi sebaliknya, mereka rela berkorban untuk melindungi negerinya dari cengkraman penjajahan dalam bentuk apapun.

Krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari orientasi pendidikan kita yang hanya memenuhi tuntutan pasar global akibat dari sistem pendidikan nasional yang miskin visi. Sehingga generasi yang dilahirkan dari sistem ini adalah generasi yang tidak berkarakter yang hanya mengikuti dan memenuhi apa yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja. Maka bangsa kita tak lebih dari bangsa pekerja.

Pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan pasar bebas berarti telah menjadikan pendidikan layaknya komoditas yang diperdagangkan. Pendidikan kemudian tunduk pada hukum pasar dan logika bisnis yang bertumpu pada pola pikir materialistik, kapitalistik, dan pragmatis. Berbagai komponen pendidikan: visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, manajemen pengelolaan, dan berbagai komponen pendidikan lainnnya harus tunduk pada hukum pasar dan logika bisnis. Selain itu, pendidikan yang dijual tersebut harus mendapatkan pengakuan dari lembaga internasional yang kredibel, melalui sertifikat akreditasi yang diakui (recognize).

Pendidikan adalah hak dasar setiap warga yang dilindungi oleh Undang Undang. Akan tetapi neoliberalisasi ekonomi yang menggurita di segala bidang telah pula menjalar ke pendidikan dan membawa pemahaman baru bahwa pendidikan adalah untuk mencari keuntungan (education for profit).

Sungguh ironis, bila negara yang seharusnya melindungi dan menjamin hak-hak warga untuk memperoleh pendidikan justru memfasilitasi liberalisasi dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menghilangkan hak-hak warga atas pendidikan, seperti yang terlihat dalam UU Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) dan aturan pendukung lainnya. Kebijakan tersebut secara sistematis semakin memperkecil peranan negara dalam pembiayaan pendidikan. Akibatnya, hampir semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak lagi dapat diakses oleh kaum miskin, meski mereka memiliki kemampuan akademik yang baik. Pengelolaan pendidikan pun tidak berbeda dengan korporasi yang mementingkan segi efsiensi, efektivitas, dan produktivitas demi keuntungan fnansial. Dijadikannya pendidikan sebagai komoditas yang diperdagangkan itulah salah satu agenda yang didesakkan oleh WTO. Demikian pula pengesahan UU BHP tidak lepas dari tekanan Bank Dunia melalui Proyek Pengembangan Relevansi dan Efsiensi Pendidikan Tinggi (Indonesia-Managing Higher Education for Relevance and Effciency Project, I-MHERE

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak rakyat Indonesia yang ingin mengenyam pendidikan tinggi namun dibatasi kemampuan finansialnya. Jika pada institusi pendidikan, komersialisasi tidak dapat dihindari, maka yang terjadi adalah pengkotak-kotakan mahasiswa. Mahasiswa yang berduit mendapat kesempatan yang lebih. Bisa dipastikan akan timbul kesenjangan baru.

Inti dampak negatif yang ditimbulkan oleh kebijakan pendidikan tinggi yang diterapkan pemerintah saat ini tidak jauh-jauh dari sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan. Inginnya mendapatkan SDM yang berkualitas. Kenyataannya malah semakin terpuruk. Manusia-manusia yang terbentuk adalah manusia yang kapitalis dan pragmatis. Kapitalis karena merasa bahwa segala sesuatu bisa dikuasai dengan uang. Pragmatis karena hidupnya bergantung pada keadaan, tidak mampu mandiri. Di samping itu perlu dipertanyakan aspek moralnya. Suasana pendidikan yang penuh persaingan cenderung membentuk manusia yang bermental rendah.

Pendidikan tinggi adalah investasi besar untuk kemajuan bangsa. Jika menginginkan negeri ini maju sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian penuh untuk pendidikan tinggi. Oleh karena itu tanggung jawab pemerintah dalam menjamin penyelenggaraan pendidikan menjadi mutlak, sehingga pendidikan dapat diakses seluas-luasnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Sudah selayaknya pemerintah meninjau ulang bahkan mencabut kebijakan privatisasi/otonomi pendidikan, pemerintah harus memberikansubsidi penuh bagi pendidikan dengan cara mengembalikan aset-aset ekonomi negara dari cengkeraman asing (diantaranya hasil hutan, tambang emas, minyak bumi, gas alam, dll) untuk membiayai pendidikan.

Pendidikan tinggi seharusnya diselenggarakan dalam rangka mencerdaskankehidupan bangsa, membangun kekuatan moral melalui intelektualitas dan kepedulian sosial para lulusannya, mensejahterakan kehidupan masyarakat dengan hasil-hasil risetnya. Seharusnya pendidikan diselenggarakan tak semata akademis, namun memberi ruang pada pembentukan karakter dan pembangunan nilai-nilai kepemimpinan.

Tak heran, betapa bangsa ini sulit sekali mencari sosok pemimpin. Sebab salah satu modal penting jaminan manusia berkemajuan telah semata menjadi sarana mendidik buruh, bukan ahli, bukan pakar, bukan manusia yang sadar kebutuhan masyarakatnya serta pentingnya mewujudkan kemandirian bangsa serta kesejahteraan masyarakatnya. Bukan manusia yang mengemban tanggung jawab mengembangkan dunia dengan nilai-nilai kebaikan.

Dari paradigma di atas, akan ditemukan jawaban yang sangat jelas dan memuaskan, apabila kita membandingkannya dengan sistem pendidikan Islam. Masalah pendidikan adalah ikhwal penting dan diprioritaskan oleh negara. Pendidikan dan negara adalah hal yang tak dapat dipisahkan.

Pendidikan merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah dan tak akan ada tanpa dukungannya. Sebaliknya, negara tak akan pernah bangkit apabila pendidikannya tak dibina dengan cemerlang. Sejarah membuktikan bagaimana dengan sistem pendidikan Islam, lahir sebuah peradaban, peradaban terlama yang pernah ada di muka bumi yaitu selama 13 abad.

Negara memberikan dukungan terhadap pendidikan ini dengan berbagai kebijakanseperti : pendidikan yang gratis, perlengkapan fasilitas, dan jaminan hidup para pengajar. Sungguh ketika kita kembali membuka sejarah mengenai kegemilangan peradaban Islam kita akan semakin terpukau melihat para intelektual muslim yang lahir dari sistem ini. Bahkan, hingga kini hasil-hasil yang terderivasi dari sistem ini dijadikan kiblat oleh para ilmuwan Eropa dan Amerika yang notabene menjadi penguasa iptek di dunia.

 Ibnu Sina, Ibnu Haitsam, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusydi, dan masih banyak lagi merupakan ilmuwan-ilmuwan Islam yang karya-karyanya tercatat terus dipakai bahkan hingga saat ini. Mereka tidak hanya ahli dalam satu bidang saja, tetapi juga alim ulama yang mampu menggali hukum sebagai solusi dari permasalahan kehidupan. Sejarah juga mencatat bahwa di saat Barat sedang berada pada zaman kegelapan, justru Islam sedang berada pada kegemilangannya. Ketika masa renaisans, Barat belajar dari universitas-universitas umat muslim, sebut saja Baghdad, Granada, Seville, dan sebagainya.

Indonesia  mayoritas penduduknya muslim, sehingga bukan sesuatu yang aneh jikasistem pendidikan Islam yang diterapkan. Dalam pelaksanaannya sistem pendidikan Islam telah terbukti menghasilkan pribadi-pribadi yang berkualitas.

Penyelesaian problem pendidikan yang  mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan  melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari  perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi  paradigma Islam. Lalu kelemahan  fungsional  yang tercermin dari kacaunya kurikulum serta  tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya dapat diperbaiki dengan cara  memperbaiki  strategi fungsionalnya  sesuai dengan arahan Islam.

Selain itu, untuk mengatasi problem komersialisasi pendidikan, perlu dilakukan langkah-langkah yang sistematis dengan merombak semua sistem mulai paradigma pendidikan hingga paradigma ekonomi, sehingga seluruh rakyat akan dapat menikmati pendidikan di Indonesia dengan murah, bermutu tinggi, dan islami  sebagai bagian dari public services semata yang diberikan oleh negara kepada rakyatnya. Dengan demikian, akan lahir secara massal SDM yang berkepribadian islami dan berkualitas unggul  yang memiliki daya saing internasional yang tinggi yang akan mampu mengangkat bangsa dan negara ini dari berbagai keterpurukan yang ada.

Wahai kaum Muslim, apakah sistem pendidikan sekuler yang rusak saat ini akan terus kita pertahankan? Marilah kita bergegas membangun sistem pendidikan Islam, yang akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Generasi yang mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb

Najdah Afaaf

Buitenzorg, 1 Januari 2012

 
 

 

Advertisements

Read Full Post »


Harga kebutuhan pokok meningkat, BBM, listrik, gas, sayur-mayur, daging, bawang sampai harga cabai juga naik harganya. Penghasilan suami yang kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari, terkadang mendorong para ibu rumah tangga berkeinginan bekerja untuk membantu suaminya. Oleh sebab itu wanita bekerja di ranah publik adalah pemandangan yang sudah biasa di era krisis ekonomi saat ini.

Banyak ibu rumah tangga yang ingin membantu suaminya bekerja dalam meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Namun realitanya kebanyakan kasus ibu rumah tangga setelah mereka bekerja di luar rumah, anak-anak mereka menjadi korban karena tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk bersama ibunya. Sehingga wajar jika anak-anak mencari kesibukannya sendiri tanpa pengawasan dari orangtua. Jika lingkungan buruk yang ia dapatkan, kemungkinan besar mereka akan terjebak dengan narkoba, menjadi korban kemajuan teknologi, seperti adanya internet yang banyak beredar situs porno bahkan games online yang disusupkan unsur pornografi di dalamnya, dan mengarah pada seks bebas. Survey terakhir menyebutkan bahwa 82% remaja senang mengkonsumsi media yang berbau pornografi dan 65% remaja putri sudah tidak perawan lagi. Namun persoalan ini belum membuka mata pemimpin negeri ini untuk segera bertindak menuntaskan persoalan ini.

Mulai dari perekonomian keluarga yang terpuruk menyebabkan persoalan sosial yang lebih buruk , peningkatan angka kriminalitas, perceraian dan berefek buruk pada kualitas generasi bangsa ini. Inilah bukti kelemahan dan kebobrokan sistem yang diterapkan di Indonesia. Sistem Kapitalisme yang diterapkan telah memaksa para ibu di negeri ini untuk bekerja meninggalkan keluarganya. Kebanyakan mereka bekerja menjadi buruh pabrik, pembantu rumah tangga, bahkan menjadi TKW di luar negeri. Lantas, bagaimana solusi dari semua permasalahan ini?

Sebagian besar penduduk di negeri ini adalah Muslim, mengapa mereka tidak mengambil hukum Islam untuk mengatur seluruh aspaek kehidupan. Padahal Islam adalah satu-satunya  solusi untuk memecahkan problematika manusia termasuk pada aspek ekonomi. Islam mewajibkan laki-laki yang mampu untuk bekerja mencari nafkah dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan keluarganya (anak dan istri). Adapun terhadap wanita, Islam tidak mewajibkan mereka untuk bekerja, tetapi Islam mewajibkan pemberian nafkah kepada mereka. Islam membolehkan wanita untuk bekerja namun keterlibatan mereka adalah dalam rangka memberikan manfaat bagi manusia lainnya dan meraih pahala di hadapan Allah SWT.

Dengan demikian keterlibatan wanita bekerja di ranah publik seharusnya tidak menyebabkan wanita mengabaikan peran pokoknya sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Oleh karena itu peran pokok wanita sesunguhnya yakni menjadi ibu dan pengelola rumah tangga sudah selayaknya mendapat perhatian penuh dan jaminan negara. Karena peran wanita ini menjadi penopang utama ketentraman dan ketenangan dalam keluarga, masyarakat dan negara. Jadi, negara wajib menjamin peran wanita sebagai ibu rumah tangga ! [Vita Agrati Eliani]

Read Full Post »


Menangis, setiap manusia pasti pernah menangis. Pertama kali seorang bayi manusia terlahir ke dunia pasti menangis. Saat ia tumbuh dewasa, saat merasa sedih atau bahagia pasti meluapkan rasa itu dengan menangis. Sama halnya denganku, yang begitu mudah menangis.

Mengapa? mungkin karena aku seorang Hawa (wanita). Karena ada ungkapan yang mengatakan bahwa menangis adalah senjata wanita. Percayakah anda? Mungkin itu sudah menjadi fitrahnya seorang wanita yang diciptakan Allah dengan kelemah lembutan. Berbeda dengan kaum Adam (pria) yang diamanahi Allah sebagai pemimpin seorang wanita kelak di dalam rumah tangganya, ia haruslah berjiwa tegar dan kuat sebagai sosok pemimpin yang melindungi. Tetapi apakah salah jika terkadang seorang pria juga ingin menangis meluapkan emosi jiwanya?

Banyak orang menyakini bahwa tangisan seorang pria merupakan bentuk kelemahannya. Dan, sesuai dengan tradisi dan adat masyarakat yang berlaku, ia harus bisa menahan diri dan tidak perlu menangis, apa pun sebabnya. Mereka semua pura-pura lupa bahwa yang namanya kaum Adam adalah juga makhluk hidup yang butuh pula untuk mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya dan juga perasaan-perasaannya, serta perlu melepaskan diri dari segala gundah yang dialaminya. Tangisan bukanlah aib atau kelemahan. Karena memang makhluk hidup adalah lemah dan hanya Allah-lah Sang Mahaperkasa.

Dibalik peristiwa (menangis) ternyata ditemukan banyak manfaat yang bisa didapat. Diambil dari sebuah artikel yang kubaca menangis merupakan kebutuhan, baik bagi kaum Adam maupun kaum Hawa. Sebab, ia mempunyai manfaat kesehatan yang cukup banyak dan beragam. ia BUKAN merupakan bukti atas kelemahan atau tidak adanya kematangan, akan tetapi merupakan bentuk terapi kesehatan yang sangat bermanfaat. Menangis dapat digunakan untuk mengatasi penyakit-penyakit yang sangat berbahaya dan bahkan penyakit yang sangat keras sekalipun, berdasarkan fakta-fakta sebagai berikut:

Pertama, menangis merupakan cara alami untuk mengusir unsur-unsur yang merugikan dan berbahaya dari dalam tubuh, yang dikeluarkan pada saat seseorang sedang mengalami kesedihan atau kekhawatiran. (wah…subhanallah, alhamdulillah Allah telah menganugerahi airmata)

Kedua, menangis akan menambah jumlah detak jantung dan dapat dikategorikan sebagai latihan yang berguna bagi diafragma serta otot-otot dada dan kedua pundak. Setelah menangis, kecepatan detak jantung akan kembali normal, sehingga ia akan mengendur dan akhirnya muncul perasaan yaman. (betul..betul..betul…rasanya plong kalo dah nangis hehehehe…)

Ketiga, jika engkau berada di suatu tempat, di mana menangis menjadi suatu yang legal dan dapat diterima secara sosial, maka demi kesehatanmu, jangan ragu untuk menangis dan melepaskan diri dari perasaan sedih atau marah yang tersimpan di dalam lubuk hatimu. Ini merupakan kesimpulan riset ilmiah yang diadakan di Universitas Temple Amerika Serikat. Riset ini mengkomparasikan kebiasaan menangis pada perempuan. Ternyata wanita yang menderita colitis (radang usus besar) memandang bahwa menangis merupakan bukti sebuah kelemahan, sehingga mereka lebih memilih untuk menahan perasaan mereka(tidak mau menangis). Semetara, para wanita yang tidak terkena penyakit tersebut memandang bahwa menangis adalah hal biasa dan alami, jika keadaannya memang menuntut seseorang untuk menangis. (wah bahaya kalo menahan air mata bisa kena penyakit radang usus besar hii..serem)

Keempat, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. WilliamA. Barry di Pusat Penelitihan Mata dan Air Mata, di Saint Paul Medical Centre, menyimpulkan bahwa menangis itu sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan emosi kita. Penelitian itu juga menegaskan bahwa merupakan kesalahan jika kita menahan keinginan untuk menangis, manakala kita memang sedang menghadapi persoalan yang menuntut kita untuk menangis. Menahan air mata justru akan menyeretmu menuju terjadinya krisis hati, kekacauan lambung, sakit kepala, dan nyeri persendian. (hiii…sereeeeemmm)
Air mata sangat berperan dalam membersihkan mata kita dan juga berperan penting di dalam meringankan tekanan jiwa yang tersimpan, yang jika terus disimpan justru akan semakin memperparah berbagai jenis penyakit, seperti radang lambung, tekana darah tinggi, serta peradangan pada selaput usu besar. (woooowww…)
Air mata itu berisi sekian banyak hormon yang dihasilkan pleh tubuh kita manakala kita sedang mengalami keteganggan jiwa. Oleh karena itu, ketika kita menangis, hormon-hormon keteganggan hilang dan akhirnya kita bisa merasa nyaman. (yuk nangis hehehehe…)

Kelima, sebuah studi kedokteran menegaskan bahwa 85 persen dari kaum wanita dan 73 persen dari kaum laki-laki merasa nyaman setelah mereka menangis. Dr. Barry berpandangan bahwa rasa sedih bertanggung jawab atas lebih dari separo prosentase penyebeb keluarnya air mata manusia, rasa senang mencerminkan 20 persen saja, sedangkan kemarahan menempati posisi ketiga.

Keenam, Dr. Bryan D., penasihat kedokteran jiwa dan penulis buku terkenal “Tempat Aman Untuk Menangis”, melalui berbagai eksperimen dan penelitian, berpendapat bahwa tidak adanya kemampuan untuk menangis menjadi penyebab dibalik sekian banyak jenis penyakit yang sedang ia tangani.

Ketujuh, para ilmuwan malakukan analisis mengenai air mata, dan ternyata mereka mendapatkan bahwa air mata itu mengandung 25 persen dari protein dan sebagian dari metal, khususnya magnesium yang sarat dengan sejumlah racun yang bisa dibuang oleh seseorang dengan cara menangis dan mengeluarkan air mata.

Kedelapan, riset Dr. Barry di Inggris mengenai air mata, menyimpulkan wanita menangis sebanyak 65 kali dalam setahun, sementara laki-laki hanya 15 kali. (kalo masalah ini emang wanita jagonya hehehehe…)

Kesembilan, Dr. M. ‘Abdul Lathif Balthiyyah, seorang dokter spesialis mata, berpendapat bahwa air mata itu mempunyai banyak faedah. ia akan membantu elastisitas gerakan kelopak mata bagian atas dan bawah. ia akan menjaga mata sebagai sebuah media untuk membersihkannya secara terus-menerus, sehingga ia pun menjaga mata dari kekeringan. Di samping itu, ia juga membantu mengusir setiap unsur yang bisa mengganggu mata, seperti cabe, asap, atau bahkan benda-benda yang padat seperti debu.
Melalui kelenjar air mata , ia juga bekerja untuk mengucurkan air mata dan mengusir benda-benda asing dari mata, sehingga ia kembali trasparan dan bersih.
Air mata juga bekerja untuk mentrasparankan kornea dan menjaga agar tidak kering. Ini merupakan faktor-faktor yang membantu kejelasan pandangan dan juga menjaga kekuatan dan akurasi pengelihatan.

Kesepuluh, para ahli kedokteran jiwa berpendapat bahwa menangis itu sangat berguna untuk mengatasi keteganggan syaraf yang dialami oleh manusia modern sekarang ini, apalagi ketika harus menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. Air mata sebenarnya membersihkan mata itu sendiri serta membuang muatan-muatan beracun yang ditimbulakan oleh ketegangan dan emosi yang terus bertubi-tubi.

Kesebelas, menahan air mata berarti peracunan secara perlahan. Mengingat air mata itu mengeluarkan bahan-bahan beracun dari tubuh, maka menahan air mata berarti peracunan(toksikasi) secara perlahan di dalam tubuh. Dan, mengingat bahwa wanita memiliki kesiapan atau kecenderungan secara fitrah untuk menangis dengan porsi yang lebih banyak daripada laki-laki, maka wanita akan hidup lebih panjang usianya daripada laki-laki, setelah wanita bisa membebaskan diri dari racun yang ada di dalam tubuhnya yang ia keluarkan melalui tangis dan cucuran air mata. (horreeee…menang hehehehe)

Itulah manfaat yang bisa didapat dari menangis. Tapi bukan itu sesungguhnya tujuan dari saya menulis note ini. Bukan untuk mengkampanyekan Gerakan Gencar Menangis hehehe…Bukan juga untuk menerangkan kalo menangis itu bermanfaat. Karena sesungguhnya setiap melakukan perbuatan seorang Muslim seharusnya bukanlah dilandasi oleh asas manfaat semata. Tetapi semestinya dan sewajibnya (maksa hehehe..) manusia dalam melakukan perbuatan harus dilandasi dengan ruh dalam arti kesadaran hubungannya sebagai makhluk dan Hamba Allah SWT. Karena jika demikian pastinya setiap perbuatan yang ia lakukan akan bernilai Ibadah.Insya Allah…
(balik lagi ke pembahasan menangis hihihi…) Dan sesungguhnya sebaik-baik menangis adalah karena Allah ta’ala.

Allah Berfirman :
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak,
sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. at-Taubah:82)

Dan mereka menyungkur atas muka mereka
sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS. al-Isra:109)

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah
kepada mereka, maka mereka menyungkur
dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam:58)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).

“Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])

~hiks..hiks…jadi pengen nangis~

by: seorang manusia yang sedang belajar mengenalNya dan yang ingin selalu menangis karenaNya

vitae

Read Full Post »



Berbicara tentang wanita pasti takkan pernah ada habisnya. Berbagai masalah yang terjadi juga tak luput dari makhluk yang bernama wanita. Wanita seringkali dijadikan sebagai objek (baca:korban) dalam setiap permasalahan yang terjadi, baik di ranah domestik maupun publik.

Pertanyaannya, mengapa wanita selalu menjadi korban ? Dalam rumah tangga, mengapa kebanyakan wanita acapkali menjadi objek/korban kekerasan. Dalam pekerjaan, mengapa kebanyakan wanita menjadi pekerja kasar (buruh pabrik). Ada juga yang rela melacurkan tubuhnya demi sejumlah materi (uang). Sebagian wanita juga tak luput dari  kaum kapitalis yang mengekploitasi kecantikannya. Mereka menjadikan wanita layaknya barang yang dapat diperjualbelikan. Mengapa semua masalah ini menimpa kaum wanita, ada apa dengan wanita?

Begitulah kondisinya, tatkala pengasuhan wanita diserahkan kepada sistem Kapitalis. Semua diukur berdasarkan materi. Tanpa materi, seseorang tidak akan mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pelayanan umum lainnya. Atas dasar kebutuhan akan hal-hal tersebut maka banyak kaum wanita rela bekerja diluar rumah untuk membantu sang suami mencari nafkah. Tidak hanya karena alasan itu saja wanita bekerja. Atas nama emansipasi, wanita kini berada di hampir semua lini kehidupan dan meninggalkan kewajiban serta fitrahnya sebagai wanita.

Wanita tak lagi menjadi pendidik utama dalam keluarga, fungsinya telah tergantikan dengan keberadaan baby sitter. Hanya untuk sebuah karier/pekerjaan di luar rumah yang mendatangkan materi, anak-anak dibiarkan tumbuh tanpa belaian lembut penuh kasih dari Sang Ibu. Apakah benar wanita dikatakan mulia saat mereka meninggalkan kewajiban serta fitrahnya sebagai wanita? Apakah benar wanita dikatakan bangkit saat mereka dapat menuntut persamaan hak dengan kaum pria?

Saat ini kebanyakan wanita mengadopsi budaya Barat seperti Feminisme, Hedonisme dan Liberalisme sehingga banyak wanita kini menganggap dirinya mempunyai derajat yang tinggi jika dapat keluar dari rumah dan berebut karier dengan kaum pria. Akibat paham Kapitalisme, uang dan jabatan dinilai lebih demi sebuah harga diri.

Jauh berbeda kondisinya jika kita bandingkan saat Islam diterapkan selama hampir 14 abad, di dalam luasan wilayah Daulah Khilafah Islamiyah yang mencakup 2/3 dunia. Saat itu wanita adalah sesosok makhluk yang mulia. Wanita begitu dihargai atas perannya sebagai pencetak dan pendidik generasi. Wanita begitu dimuliakan dengan segenap aturan syariah yang diterapkan kepadanya. Mereka mulia dengan ketinggian ilmu yang dimilikinya. Mereka mulia dengan busana yang dikenakannya.

Kecantikannya takkan  di eksploitasi atau dikomersilkan karena mereka menutup auratnya dengan mengenakan jilbab dan kerudung. Tidak hanya itu saja negara pun melindunginya dengan penerapan syariah. Saat persamaan hak yang dituntut dalam bidang karier/pekerjaan, bukan kemolekan tubuh dan wajah yang dikomersilkan tetapi kecerdasan dan keterampilan yang diperhitungkan. Sehingga tak ada perusahaan yang hanya memprioritaskan wanita dengan busana minim dan seksi. Lahan kerja tersedia bagi siapa saja baik itu pria maupun wanita. Tak ada larangan bagi wanita untuk berkarier di luar rumah selama tidak melalaikan kewajibannya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya. Status bekerja bagi wanita mubah hukumnya karena mencari nafkah/bekerja hanya dibebankan atau menjadi kewajiban bagi kaum pria.

Dalam hal menuntut ilmu, wanita dan pria mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Wanita wajib memiliki ilmu untuk bekal mendidik anak-anaknya yang kelak menjadi generasi berkualitas. Oleh sebab itu negara begitu memuliakan seorang wanita. Karena wanitalah yang akan menjadi penentu generasi yang akan terlahir darinya. Generasi yang nantinya akan menjadi ujung tombak sebuah negara.

Maka bukan emansipasi (baca: menuntut persamaan hak dengan kaum pria) yang menjadikan seorang wanita bangkit. tetapi bangkitnya seorang wanita di nilai dari taraf berpikirnya yakni saat ia memiliki suatu pemahaman/ideologi yang dapat menyelesaikan seluruh problem kehidupan. Seorang muslimah wajib mengemban Islam sebagai ideologi. Dan menjadikan Islam sebagai  solusi bagi seluruh aspek kehidupan.

Wanita dimuliakan ketika ia dapat menjaga kehormatan dirinya dan menjalankan kewajiban serta fitrahnya sebagai pendidik utama dalam keluarga. Bangkitnya seorang wanita adalah saat ia dapat melahirkan generasi cerdas dan berkualitas dengan bekal ilmu, iman dan taqwa. Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak. Sistem yang diterapkan masyarakat pula yang mempengaruhi kondisi lingkungan. Untuk mengatasi persoalan ini, maka masyarakat harus mengubah sistem yang diterapkan saat ini dengan syariat Islam. Karena hanya negara (Daulah Islamiyah) yang dapat menjamin syariat Islam diterapkan yang kemudian akan dapat menjamin terlahirnya generasi dambaan umat dari seorang ibu yang cerdas.  (vitae)

Read Full Post »


NEW YORK–Super star Muslim asal India, Shah Rukh Khan bicara soal dakwah. Pemikirannya soal dakwah Islam termuat dalam wawancara yang ditayangkan situs CNN, akhir pekan lalu. Pembicaraan ini diawali dengan pertanyaan sang pewawancara soal kewajiban setiap Muslim untuk menjelaskan agamanya kepada masyarakat dunia.

Dari situ kemudian pemeran utama dalam film ‘My Name is Khan’ tersebut pun mulai bicara soal konsep dakwah. Menurut dia, dakwah Islam harus dijalankan dalam situasi komunikasi dua arah. Pihak yang berada di luar Islam, kata dia, harus punya kesediaan untuk memahami Islam. Sebaliknya, menurut Khan, setiap Muslim –apalagi yang berpendidikan– punya kewajiban untuk menjelaskan Islam dengan baik.

“Setiap Muslim yang terdidik punya kewajiban itu, termasuk saya sebagai aktor,” tutur dia. Umat Islam, menurut dia, punya kewajiban untuk menjelaskan soal konsep toleransi, konsep Jihad, juga Islam secara keseluruhan. Umat Islam, dinilainya, tidak cukup hanya terus-menerus mereaksi secara emosional setiap tekanan yang dialaminya.

Penjelasan soal berbagai konsep tersebut, dipandangnya juga penting untuk terus digaungkan. Menurut dia, setiap Muslim punya kesempatan untuk menjelaskan agamanya dengan baik. Lebih jauh dari itu, tutur Khan, setiap Muslim juga harus berpikir soal mempromosikan agamanya secara luas.

tinta cinta berkata:

Benar, Allah SWT. sudah memilih kaum Muslimin, sebagai umat yang terbaik. umat yang punya misi untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah SWT. berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…(QS. ali-Imran:110)

Read Full Post »


VIVAnews – Jika banyak wanita melakukan bedah plastik demi memiliki wajah cantik selebriti dunia, tidak bagi seorang wanita asal China. Lantaran takut kehilangan pujaan hati, ia nekat melakukan operasi plastik meniru wajah mantan istri suaminya yang telah meninggal.

Wanita yang disembunyikan identitasnya itu mengajukan bedah plastik pada 2007 silam, sesaat sebelum pernikahannya. “Hati saya berkecamuk. Di satu sisi saya ingin menjadi diri saya sendiri, tapi di sisi lain saya tak ingin kehilangan pernikahan ini. Semoga operasi ini tak membuat saya tampak bodoh,” ujarnya.

Adalah sang suami, Zhao Gang, 37, yang mengajukan syarat itu. Ia bersedia menikah asal wanita itu melakukan ‘permak’ wajah menyerupai mantan istrinya yang meninggal akibat kecelakaan mobil. “Ini memang tak adil, tapi dia setuju, dan sebagai gantinya saya akan mencintainya dengan sepenuh hati,” ujarnya.

Direktur unit bedah plastik People’s Hospital di Chongqing, Dr. Zhang Lianfeng, mengingatkan para pasien bedah plastik agar tak melakukan perubahan penampilan hanya demi menyenangkan pasangannya.

Ia sangat sedih jika ada seseorang yang melakukan bedah plastik lantaran tekanan orang lain. Itu sangat menyiksa piskologis. “Saya katakan operasi plastik tak bisa diandalkan untuk kebahagiaan rumah tangga karena hanya mengubah penampilan fisik, apalagi tak ada operasi plastik yang bisa membuat dua orang menjadi kembar identik,” ujarnya.

tinta cinta berkata:

hii..serem…begitulah wanita2 kapitalis hidupnya hedonis, tidak PeDe, dan tidak pernah mensyukuri anugerah yg diberikan Tuhannya..pria-prianya pun demikian..hanya melihat wanita dari pesona fisiknya saja..:( 

semoga kaum Muslim tidak serupa dengan mereka..apalagi para pejuang syariahnya..^_^

Read Full Post »


“Apabila anda seorang pemula pada bidang komputer dan sistem operasi, akan lebih baik jika anda membaca buku petunjuk dari sistem operasi dan cara kerjanya. Disarankan juga agar anda terbiasa dengan sistem operasi yang anda pakai.”

Itulah sepenggal kalimat yang saya temui ketika membaca “buku panduan/petunjuk menggunakan notebook”. Ketika kemarin saya baru membeli sebuah laptop baru, saya mendapatkan buku panduan itu seperangkat dalam dus pembungkus. Isi dalam dus itu selain ada laptop yang saya beli juga didalamnya ada seperangkat alat-alat penunjang laptop tersebut, seperti Adaptor AC+kabel Power AC, Baterai, CD Utiliti, dan yang penting adalah buku Manual (panduan).

Sebuah barang/produk yang diciptakan oleh manusia, misalnya sebuah komputer atau laptop. Pastinya ketika kita membelinya ada buku panduan yang melengkapi/menunjang penggunaan barang atau produk tersebut. Karena sudah pasti hanya si pembuat barang tersebut yang  mengetahui seluk-beluk barang yang diciptakannya. Sehingga ia juga akan membuat buku panduan agar si pengguna barang nantinya akan mengerti bagaimana cara menggunakan produk itu dengan aman, baik dan benar agar tidak terjadi kesalahan/kerusakan dalam penggunaannya. Jika saja si pengguna melakukan kecerobohan/kebodohan dalam menggunakan barang tersebut sehingga tidak sesuai dengan aturan dalam buku petunjuk maka akan terjadi kerusakan.

Ibarat sebuah barang/produk yang diciptakan, begitu juga manusia, Allah SWT. telah menciptakan manusia lengkap beserta buku panduan hidup yaitu al-Qur’an. Ketika buku panduan tersebut tidak digunakan sebagai pedoman dalam kehidupannya, maka terjadilah kerusakan yang menimpa manusia sebagaimana kerusakan yang terjadi pada sebuah barang /sebuah produk yang diciptakan pembuatnya.

Demikian pula kondisi yang telah terjadi saat ini, kemiskinan, kebodohan, kriminalitas semakin meningkat, keterpurukan ummat, dan kerusakan alam yang berakibat fatal bagi kelestarian makhluk hidup di bumi. Semua kondisi tersebut terjadi karena manusia telah membuat hukum sendiri (Kapitalisme, Liberalisme, Sosialisme-Komunisme, dan yang lainnya) untuk mengatur segala aspek kehidupannya sehingga kerusakanlah yang terjadi. Semestinya hal ini tidak terjadi jika saja manusia sadar akan kodratnya sebagai makhluk yang menghamba kepada Allah SWT dan hanya mengambil hukum Islam sebagai sumber hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Allah SWT. berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali Imran : 19)

“Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan untukmu nikmatku, serta aku ridhoi Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Maidah :3)

Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT. untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia. Islam adalah agama yang benar & sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Sudah selayaknya manusia kini sadar dan kembali pada hukum Islam yang bersumber dari Allah SWT yang Maha mengetahui hakekat makhluknya, dan yang terbaik untuk kehidupan makhluknya

Wallahu’alam.

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum : 40-41)

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?
(QS. al-maidah : 50)

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: