Feeds:
Posts
Comments

Soal :

Ustadz, apa hukumnya gadai syariah, baik yang ada di pegadaian syariah maupun di berbagai bank syariah sekarang?

Pegadaian Ribawi Jawab :

Gadai syariah merupakan produk jasa gadai (rahn) yang diklaim dilaksanakan sesuai syariah, sebagai koreksi terhadap gadai konvensional yang haram karena memungut bunga (riba).  Gadai syariah berkembang pasca keluarnya Fatwa DSN MUI No 25/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn, Fatwa DSN MUI No 26/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn emas, dan Fatwa DSN MUI No 68/DSN-MUI/III/2008 tentang rahn tasjily. Sejak itu marak berbagai jasa gadai syariah, baik di Pegadaian Syariah maupun di berbagai bank syariah.

Gadai syariah tidak menghapus bunga, melainkan mengganti bunga itu dengan biaya simpan atas dasar akad ijarah (jasa). Jadi dalam gadai syariah ada dua akad : Pertama, akad rahn, yaitu akad utang (qardh) oleh rahin (nasabah) kepada murtahin (bank/pegadaian syariah) dengan menggadaikan suatu harta tertentu sebagai jaminan utang. Kedua, akad ijarah, yaitu akad jasa di mana murtahin menyewakan tempat dan memberikan jasa penyimpanan kepada rahin.

Di Pegadaian Syariah, biasanya platfon utang yang diberikan maksimal 90 persen dari nilai taksiran, dengan jangka waktu utang maksimal 4 bulan. Besarnya biaya simpan Rp 90 untuk setiap kelipatan Rp 10.000 dari nilai taksiran per sepuluh hari. Ini sama dengan 0,9 persen per 10 hari = 2,7 persen per 30 hari = 10,8 persen per 120 hari (4 bulan).

Misal: Jono menggadaikan laptop kepada Pegadaian Syariah, dengan nilai taksiran Rp 1 juta. Plafon utang maksimal sebesar 90 persen (Rp 900.000). Biaya simpan Rp 90 untuk setiap kelipatan Rp 10.000 dari nilai taksiran per 10 hari, sama dengan 10,8 persen dari nilai taksiran untuk 120 hari. Jika jangka waktu utang 4 bulan (120 hari), maka biaya simpannya sebesar =10,8 persen x Rp 1.000.000 = Rp 108.000. Jadi, pada saat jatuh tempo jumlah uang yang harus dibayar Jono sebesar Rp 900.000 + Rp 108.000 = Rp 1.008.000. (Yahya Abdurrahman, Pegadaian Dalam Pandangan Islam, hlm. 130-131).

Menurut kami, gadai syariah ini adalah akad yang batil (tidak sah) dan haram hukumnya, dengan tiga alasan sebagai berikut :  Pertama, terjadi penggabungan dua akad menjadi satu akad (multi akad) yang dilarang syariah, yaitu akad gadai (atau akad qardh) dan akadijarah (biaya simpan). Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, bahwasanya Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan. (HR Ahmad, hadis sahih). Menurut Imam Taqiyuddin Nabhani, yang dimaksud “dua kesepakatan dalam satu kesepakatan” adalah adanya dua akad dalam satu akad, misalnya menggabungkan dua akad jual beli menjadi satu akad, atau menggabungkan akad jual-beli dengan akad ijarah. (Al Syakhshiyah Al Islamiyah, 2/308).

Kedua, terjadi riba walaupun disebut dengan istilah “biaya simpan” atas barang gadai dalam akad qardh (utang) antara Pegadaian Syariah dengan nasabah. Padahal qardhyang menarik manfaat, baik berupa hadiah barang, uang, atau manfaat lainnya, adalah riba yang hukumnya haram. Sabda Rasulullah SAW,”Jika seseorang memberi pinjaman (qardh), janganlah dia mengambil hadiah.” (HR Bukhari, dalam kitabnya At Tarikh Al Kabir). (Taqiyuddin Nabhani, Al Syakhshiyah Al Islamiyah, 2/341).

Ketiga, terjadi kekeliruan pembebanan biaya simpan. Dalam kasus ini, dikarenakan pihak murtahin (pegadaian syariah) yang berkepentingan terhadap barang gadai sebagai jaminan atas utang yang diberikannya, maka seharusnya biaya simpan menjadi kewajiban murtahin, bukan kewajiban rahin (nasabah). (Imam Syaukani, As Sailul Jarar,hlm. 275-276; Wablul Ghamam ‘Ala Syifa` Al Awam, 2/178; Imam Shan’ani, Subulus Salam, 3/51). Sabda Rasulullah SAW, “Jika hewan tunggangan digadaikan, makamurtahin harus menanggung makanannya, dan [jika] susu hewan itu diminum, maka atas yang meminum harus menanggung biayanya.” (HR Ahmad, Al Musnad, 2/472). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hadis no 2301, hlm. 1090).

Berdasarkan tiga alasan di atas, gadai syariah yang ada sekarang baik di Pegadaian Syariah maupun di berbagai bank syariah, menurut kami hukumnya haram dan tidak sah.Wallahu ‘alam. (Ustadz Shiddiq  al Jawi)

sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2012/05/03/hukum-gadai-syariah/



the Caliph deposed

1. hari ini, 3 maret 2012, 88 tahun sejak khilafah dihapuskan pada 3 maret 1924
2. bukan mengenang, namun mengambil makna agar memahami apa obat untuk kehancuran Khilafah Islam yg pernah menaungi seluruh Muslim

3. meniti sejarah memahami kesalahan masa lalu untuk jadi peringatan bagi jalan yang dibangun di masa depan ketika menyambut kembalinya Khilafah

4. benar ucapan Ibnu Khaldun, bahwa peradaban itu seperti pendulum, awalnya tak terorganisir, lalu menjadi rapi, dan kembali lagi rapuh

5. begitu pula Islam, setelah menikmati zaman keemasan (Islamic Golden Age) pada kurun 750-1500, dari sana perlahan mengalami degradasi

6. Khilafah Abbasiyah menimati puncak keemasan sains dan teknologi, sementara Khilafah Utsmaniyah tandai keemasannya dengan wilayah terluas

7. masa Sultan Fatih Mehmed II dan Khalifah Suleyman Qanuni, Islam sudah sangat kuat, sayangnya tak digunakan utk perbaiki pemahaman Islam

8. maka pada masa Khalifah Suleyman, Islam mencapai puncak kejayaan dan luasan, Islam memiliki hegemoni di daratan maupun lautan

9. terlena oleh harapan kemenangan dan kemewahan hidup, pd 1683 pasukan Islam tertahan dan kalah menyakitkan di gerbang Wina

10. itulah terakhir kalinya kaum Muslim lakukan jihad, tanpa disadari, ini adl satu faktor yg sebabkan lemahnya Islam dan bangkitnya barat

11. tak diragukan lagi, kejadian Wina 1683 jadi titik tolak mundurnya Islam

12. saat jihad ditinggalkan, barat mulai ekspansi muliter dengan 3G (gold-gospel-glory), lalu menjajah negeri muslim

13. penyebab kedua runtuhnya Khilafah Islam adl karena ditinggalkannya bahasa arab sebagai bahasa Islam, sehingga lemahlah pemahaman Islam

14. sebagaimana jamak diketahui, Khilafah Islam berasal dari sultan2 Mamalik, tentara2 ajam yang akhirnya jadi pemimpin kaum Muslim

15. masalah mulai muncul saat kaum Mamalik ini tak menjadikan bahasa arab sebagai bahasa ibu kecuali pada sultan2 yg sedikit

16. terjadilah pemisahan “potensi Islam” dan “potensi bahasa arab” yang merupakan pokok dari pengetahuan dan ilmu dalam Islam

17. rendahnya pemahaman Islam akibat ditinggalkannya bahasa arab dapat terlihat ketika Al-Qaffal menutup pintu ijtihad, sehingga ummat resah

18. permasalah mulai muncul ditengah ummat tanpa ada solusi, “apakah TV halal atau haram?”, “bisakah Al-Qur’an dicetak?” dan semisal

19. lengkap kemunduran berpikir kaum Muslim tatkala diserang oleh filsafat persia dan yunani yang menyusup dalam pikir kaum Muslim

20. filsafat persia sangat nyata pada pemikiran tasawuf pd masa itu, penyucian diri dgn cara menyiksa fisik sebagai ganti ketinggian ruh

21. filsafat yunani pun sebenarnya menyerang pemahaman tentang taqdir, qadha-qadar, sampai melahirkan fitnag khalqul qur’an gaya mu’tazilah

22. saat kondisi pemahaman ummat melemah dan ketakwaan mereka pada Allah mulai memudar, serangan2 barat diintensifkan

23. akhir abad ke-16, para misionaris mulai mengacaukan pemahaman ummat, dumulai di malta, tugas mereka membuat ragu ummat akan ajaran Islam

24. prancis dan inggris, dan amerika urun Rembuk pula pada abad 18-19, menabur benih kehancuran dengan menanam paham nasionalisme

25. paham nasionalisme disebarkan sampai kaum Muslim mengelompokkan diri sbg arab, turki atau mesir, dari menganggap mereka satu Muslim

26. salah satu kota besar tempat dakwah nasionalisme ini adalah di beirut, American University of Beirut misalnya dibentuk pd 1866

27. sebab selanjutnya keruntuhan Khilafah ini terkait dengan serangan fisik, perang dan imperialisme serta melalui perjanjian2

28. perjanjian karlowitz 1699, passarowitz 1718, Belgrade 1739, Kucuk Kaynarca 1774, semuanya mengerat habis wilayah Khilafah Utsmani

29. russia mengerat wilayah Khilafah di utara sampai berbatasan dengan laut hitam di masa Catherine

30. sementara prancis menjajah mesir pd 1698, Aljazair pd 1830, tunisia pd 1881, Moroko pd 1912

31. inggris mengambil wilayah india, cina barat, sudan, dan akhirnya merebut mesir dari prancis, kaum Muslim seperti hidangan yg direbutkan

32. ditengah-tengah kekacauan ini, internal Muslim goyah karena seringnya pemberontakan yg dilakukan oleh tim inti yeniseri

33. pembubaran tim yeniseri oleh Khalifah Mahmud II pd 1826 menambah daftar panjang penyebab lemahnya Islam dan lemahnya pasukannya

34. saat tim yeniseri bubar, maka pengaruh barat yang deras masuk memaksa kaum Muslim mengadakan pembaruan militer dan hukum

35. reformasi inilah yg dinamakan ‘tanzimat’ sebuah reformasi yg agaknya lebih cenderung ke sekuleriasi Khilafah Islam

36. pasca tanzimat ini, Khilafah mulai mengadopsi sistem keuangan, hukum sipil dan hukum pidana Prancis

37. reformasi militer berdasarkan sistem militer prancis dan swedia, sehingga militer kaum Muslim mulai dikuasai secara tak langsung

38. hapus jizyah, dirikan pasar saham, non-muslim diizinkan jadi tentara reguler, bisa dirikan universitas2 barat, dan dirikan parlemen

39. selain itu juga dibuat hemayun script, lalu terapkan sistem parlementer, membagi dua pengadilan, dan mengekor hukum positif barat

40. bersamaan dengan itu, benih2 nasionalisme mulai tumbuh di dunia Islam, fatatul turk (pemuda turki), fatatul arab (pemuda arab) buktinya

41. kaum pemuda berlandaskan nasionalisme ini mulai menyerukan disintegrasi Islam berdasar etnis, semisal gerakan ittihad wa taraqiy turki

42. dan gerakan2 ini dapat sambutan dan dukungan hangat dari loji2 freemasin di yunani, dan mendanai mereka, izinkan rapat di pembangkit mereka

43. masya Allah, begitulah kaum Muslim dikerat dengan pisau nasionalisme, ukhuwah dinomordiakan warna kulit dan bentuk wajah

44. tokoh2 antek barat laksana jamaluddin al-afghani pun diorbitkan untuk menolak Khilafah dan munculkan Pan Arabisme (persatuan etnis arab)

45. khusus jamaludiin ini, Khalifah Abdul Hamid II dlm catatan hariannya menyebutnya “pelawak” dan orang yang sangat berbahaya

46. dan pukulan pamungkas dari barat datang ketika PD1 1914-1917, kaum Muslim terjebak perang melawan sekutu dan kalah total

47. maka lewat perjanjian sykes-PICOT (inggris-prancis) wilayah Islam secara formal dikerat penjajah, dipecah belah

48. antek inggris lawrence of arabia menginisiasi pemberontakan negeri2 arab di syam pada 1916-1918, muncullah negeri2 baru

49. termasuk ibnu saud yg didukung melakukan pemberontakan, dan raja faisal yg memimpin “revolusi arab” juga disupport inggris

50. maka inggris menggarisbawahi wilayah2 kaum Muslim, dan memotong mereka menjadi satuan2 yg lemah

51. lewat inggris pula mustafa kemal berhasil mengganti Khilafah Utsmani menjadi Republik Turki, dan Khilafah resmi dihapus pd 3 Maret 1924

demikian pembahasan runtuhnya khilafah, insya Allah besk kita lanjutkan ke “apa yang harus kita lakukan sekarang?”

diambil dari twitter @ felixsiauw, follow untuk selanjutnya ..
sumber: http://maf1453.com/felix/2012/03/04/bagaimana-khilafah-diruntuhkan/ # more-834


Tanya :

Ustadz, bolehkah kita menunda shalat dengan alasan olahraga?

Dani, Jakarta

Jawab :

Menunda shalat (ta`khir as shalah) hukumnya boleh (ja`iz) jika tak sampai keluar dari waktu shalat. Sebab kewajiban shalat dalam istilah fiqih disebut kewajiban muwassa’, yakni kewajiban yang waktu pelaksanaannya dapat dipilih pada waktu mana pun yang tersedia, baik di awal, tengah, maupun akhir waktu. (Ahkamus Shalah, Ali Raghib, hlm. 18).

Namun yang lebih baik mengerjakan shalat pada waktu ikhtiyar, yakni waktu yang disunnahkan, misalnya mengerjakan shalat Isya dari awal waktu yaitu tenggelamnya mega merah hingga pertengahan malam (nishf al lail). Waktu shalat sesudah habisnya waktu ikhtiyar disebut waktu jawaz/dharurat/karahah, yakni waktu shalat yang sudah tak disunnahkan lagi, meski masih dibolehkan. (Mahmud Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shalah, II/12).

Atas dasar itu, menunda shalat dengan alasan olahraga hukumnya boleh, selama penundaan shalat itu tak sampai keluar dari waktu shalat.

Namun walaupun sah mengerjakan shalat hingga di akhir waktu, tak sepantasnya hal ini dilakukan oleh seorang Muslim yang taat. Terutama jika ia hanya sempat shalat satu rakaat sebelum waktu shalat habis. Seseorang yang masih sempat shalat satu rakaat sebelum waktu habis, memang dianggap mendapati shalat, berdasarkan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa mendapati satu rakaat dari shalat, berarti dia mendapati shalat.” (HR Bukhari).

Namun demikian walau shalatnya sah, dia berdosa karena terdapat dalil yang mencela shalat seperti ini yang mirip dengan shalatnya orang munafik. Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Itulah shalatnya orang munafik. Dia duduk menunggu-nunggu matahari, hingga tatkala matahari berada di antara dua tanduk syetan (hampir terbenam), dia cepat-cepat shalat empat rakaat, dia tak mengingat Allah kecuali sedikit.” (HR Muslim). (Mahmud ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shalah, II/18).

Adapun jika penundaan shalat itu sampai keluar dari waktu shalat, hukumnya haram dan merupakan dosa besar. Sebab mengerjakan shalat pada waktunya adalah kewajiban yang harus dipelihara setiap Muslim, sesuai firman Allah SWT (artinya) : “Peliharalah segala shalatmu.” (TQS Al Baqarah [2] : 238). Dari Fudhalah RA, Nabi SAW bersabda, ”Peliharalah shalat yang lima.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Maka tak dibolehkan menunda shalat hingga keluar dari batas waktunya, kecuali terdapat udzur syar’i, seperti ketidaksengajaan karena lupa atau tertidur, atau karena dalam perjalanan (safar) atau hujan yang membolehkan shalat jama’ ta`khir. (Ahkamus Shalah, Ali Raghib, hlm. 18).

Atas dasar itu, menunda shalat dengan alasan olahraga hukumnya haram dan dosa besar, jika penundaan shalat itu sampai keluar dari waktu shalat tanpa udzur syar’i.

Kami tegaskan pula, aktivitas olahraga apa pun yang menyebabkan penundaan shalat yang demikian itu, hukumnya haram juga, berdasarkan kaidah fiqih: al wasilah ilal al haram muharramah (segala perantaraan yang mengakibatkan keharaman, maka perantaraan itu haram hukumnya). (M. Shidqi Burnu, Mausu’ah Al Qawa’id Al Fiqhiyyah, XII/199; Musa Al Usairi, Ahkam Kurah Al Qadam fi Al Fiqh Al Islami, hlm. 63 & 331; Diyab Al Ghamidi, Haqiqah Kurah Al Qadam, hlm. 44).

Kami tambahkan pula perjalanan (safar) yang membolehkan shalat jama’ ta`khir (jika jaraknya minimal 16 farsakh = 88,7 km), disyaratkan tak disertai kemaksiatan. Jika disertai kemaksiatan, hukum rukhshah (keringanan) berupa jama’ ta`khir tetap tak boleh dilaksanakan, sesuai kaidah fiqih : ar rukhash laa tunaathu bil ma’ashi (hukum rukhshah tak dapat dikaitkan dengan kemaksiatan). (M. Shidqi Burnu, Mausu’ah Al Qawa’id Al Fiqhiyyah, IV/401).

Maka jika olahraga yang dilakukan disertai kemaksiatan, misalnya pemain sepak bola tak menutup aurat antara pusar dan lututnya, dia tetap tak boleh shalat jama’ ta`khir walaupun statusnya musafir. Wallahu a’lam.[oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi]
sumber : http://www.mediaumat.com/ustadz-menjawab/3550-70-menunda-shalat-dengan-alasan-olahraga-bolehkah.html


Harun ar-Rasyid, Khalifah Abbasiyyah yang memerintah sejak tahun 170-193 H. Selain kecintaannya kepada ulama dan ilmu, beliau juga dikenal sebagai khalifah yang sangat tegas dan pemberani. Sebagaimana penuturan suhunya sejarah (Syaikh at-Tarikh), at-Thabari, Khalifah yang satu ini memang dikenal rajin berperang. Beliau membagi waktu satu tahun untuk berperang, dan tahun berikutnya untuk berhaji. Itulah Khalifah Harun ar-Rasyid.

Pada tahun 186 H, beliau menyerang Shaifah dengan panglimanya, al-Qasim bin ar-Rasyid. Pada tahun yang sama, beliau pun mengutus Ibn Ja’far bin al-Asy’ats ke sana, dan berhasil mengepung benteng Sinan. Terjadilah perjanjian damai antara Khilafah Abbasiyah, dengan Romawi, yang kala itu masih dipimpin oleh Ratu Rini. Dia pun digulingkan, dan hanya memerintah selama 5 bulan. Setelah itu, Romawi jatuh ke tangan Nakfur. Bagi Nakfur, Ratu Rini adalah Ratu yang lemah, sehingga dia tunduk dan mau membayar Kharaj kepada Khilafah Abbasiyah, dalam hal ini Khalifah Harun ar-Rasyid.

Begitu dilantik menjadi Raja, Nakfur pun menulis surat kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, untuk meminta kembali harta yang pernah dibayarkan oleh Ratu Rini, setelah keduanya sepakat melakukan perjanjian damai. Maka, Khalifah agung itu pun membalas surat Nakfur, bukan dengan kertas atau kulit lain, tetapi dengan kertas atau kulit yang dipakai Nakfur, yaitu ditulis di belakangnya: “Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Jawabannya seperti yang kamu lihat, bukan seperti yang kamu dengar.” Surat itu pun dikirim bersama dengan pasukan Khilafah. Pada saat itu, Harun ar-Rasyid sendiri memimpin pasukannya hingga sampai di Kota Heraklius, sehingga terjadilah peperang yang sangat terkenal dan menjadi momentum penaklukan yang sangat nyata.

Emperium Romawi itu pun tak kuasa membendung gempuran pasukan Khilafah, akhirnya Nakfur pun meminta diadakannya perundingan dan bersedia membayar Kharaj tiap tahun, sebagaimana yang pernah dibayar oleh Ratu Rini. Khalifah Harun ar-Rasyid pun bersedia mengabulkan keinginannya. Tetapi, Nakfur berkhianat dan mengingkari perjanjian tersebut.

Karena peristiwa ini, Khalifah Harun ar-Rasyid pun mengirim 135.000 tentaranya ke bumi Romawi, sehingga tahun 196 H Allah pun memberikan kemenangan kepada mereka. Beliau singgah di Kota Heraklius. Kota itu pun dikepung selama 30 hari, dan kota itu akhirnya jatuh ke tangan kaum Musilm. Penduduknya dijadikan sebagai sabaya (tawanan) dan harta kekayaan yang ada di sana dijadikan ghanimah bagi mereka. Dalam peperangan tersebut, menurut Ibn Khaldun, tentara Nakfur yang terbunuh sebanyak 40.000 orang.

Sementara pasukan kaum Muslim yang lain di bawah pimpinan Syarahbil bin Ma’an bin Zaidah berhasil menaklukkan benteng Shaqalibah dan Disah. Sementara pasukan Yazid bin Mukhlid berhasil menaklukkan benteng Shafshaf dan Quniah. Ini diikuti dengan pengiriman armada maritim di sepanjang pantai Syam, Mesir hingga Cyprus (Turki/Yunani). Pasukan Romawi di sepanjang wilayah itu pun kalah, sehingga 17.000 penduduk di sana berhasil dijadikan sebagai sabaya oleh pasukan kaum Muslim. Di dalamnya termasuk Uskup Cyprus, yang akhirnya dibebaskan dengan membayar tebusan sebesar 2.000 Dinar (Rp. 2,5 milyar).

Itulah pelajaran berharga yang harus dibayar Emperium Romawi ketika berani dengan Khilafah. Emperium Barat juga akan membayar harga yang mahal atas semua kebijakan mereka di dunia Islam selama ini, ketika Khilafah ini tegak kembali.
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/2187-44-harun-ar-rasyid-dan-anjing-romawi-.html


Tidak ada yang menyangkal keberanian Harun ar-Rasyid. Sikapnya yang begitu berani kepada Nakfur hingga kini menghiasi sejarah umat Islam. Tetapi, di balik sikapnya yang terkenal sangat pemberani, dia pun luluh di hadapan ulama. Bahkan, dia datang bersama kedua anaknya ke Madinah, sengaja untuk mendengarkan Imam Malik mengajarkan kitabnya, al-Muwattha’.

Ketika sampai di Madinah, al-Barmaki, salah seorang pembantu (wazir)-nya, menghadap Imam Malik dan berkata kepada dia, “Bawakanlah kitab yang Anda karang kepadaku, hingga aku bisa membacakannya dari Anda kepada baginda.”

Imam Malik pun menjawab, “Sampaikanlah salamku, dan katakanlah kepadanya, ‘Ilmu itu harus dikunjungi bukan mengunjungi. Ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi’.”

Al-Barmaki pun kembali menghadap sang Khalifah seraya berkata, “Wahai Amir al-Mukminin, telah sampai kepada penduduk Irak, bahwa Baginda telah menghadap kepada Imam Malik, dan dia meninggalkan Baginda. Bulatkanlah tekad Baginda terhadap dia, hingga dia datang menghadap Baginda.”
Datanglah seseorang menasehati sang Khalifah seraya berkata, “Wahai Amir al-Mukminin, Allah telah menjadikan Baginda dalam posisi seperti ini karena ilmu Baginda. Janganlah Baginda menjadi orang yang pertama kali menghinakan ilmu, sehingga Baginda pun akan dihinakan oleh Allah. Saya melihat ada orang yang kedudukan dan rumahnya tidak seperti Baginda, tetapi dia memuliakan dan meninggikan ilmu ini. Mestinya Baginda lebih wajib memuliakan dan meninggikan ilmu saudara sepupu Baginda.” Harun pun menangis (as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, juz II/692).

Khalifah agung itu pun akhirnya datang di majelis Imam Malik untuk mendengarkan pembacaan kitabnya, al-Muwattha’. Malang benar sang Khalifah, ketika mendengarkan sang Imam membacakan kitabnya, dia pun duduk sambil bersandar, maka Imam Malik pun menegurnya dan melarangnya bersandar. Karena sikap seperti itu di majelis ilmu dianggap tidak beradab (Ruh al-Bayan, juz IX/529). Sang khalifah pun taat dan patuh kepada ulama agung itu, meski dia adalah khalifah yang sangat disegani.

Suatu ketika, sang Khalifah pun mengutarakan niatnya untuk menghancurkan bangunan Ka’bah yang dibangun al-Hujjaj bin Yusuf, salah seorang wali di zaman Khilafah Ummayyah, dan mengembalikannya kepada bangunan yang dibuat oleh Abdullah bin Zubair. Imam agung itu pun menasehati sang khalifah, “Hanya kepada Allah saya sampaikan urusan Anda. Wahai Amirul Mukminin, janganlah Anda menjadikan Baitullah ini sebagai mainan para raja! Tak seorang pun dari mereka, kecuali ingin menghancurkan bangunan Baitullah, sehingga hilanglah wibawa (penghormatan terhadap Baitullah) dari benak manusia.” (Ruh al-Bayan, juz I/229). Khalifah yang mulia itu pun mengikuti nasihat sang Imam.

Harun ar-Rasyid pun dikenal dengan penghormatannya yang luar biasa kepada ilmu dan ulama. Dia selalu memberikan hadiah kepada ulama yang mengingatkannya. Dia pernah memberikan kepada Ibn ar-Rabi’ 1.000 Dinar (Rp. 1,356 juta), “Ini 1000 Dinar. Ambillah, dan belanjakanlah kepada keluarga Tuan. Gunakanlah untuk menguatkan ibadah Tuan.” Ibn ar-Rabi’ berkata, “Subhanallah, saya tunjukkan Baginda kepada jalan keselamatan, dan Baginda membalas saya dengan pemberian seperti ini?” Khalifah agung itu pun memuji Ibn ar-Rabi’ sebagai sayyid al-Muslimin (penghulu kaum Muslim) pada zamannya, karena jasanya menunjukkan dia kepada kebenaran. Benarlah ungkapan ulama’ yang menyatakan, “Jika ulama’ zuhud dalam urusan dunia, maka para diktator pun tunduk kepadanya.” (al-Badri, al-’Ulama’ Baina al-Hukkam, h. 88).
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/2124-43-harun-ar-rasyid-dan-ulama.html


Al-Mahdi, Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Manshur (158-169 H) adalah khalifah ketiga dari Khilafah ‘Abbasiyah. Dia adalah putra Abu Ja’far al-Manshur, Khalifah kedua Khilafah ‘Abbasiyah. Al-Mahdi dikenal dengan sifatnya yang dermawan dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Dialah Khalifah pertama yang membuat kebijakan untuk menyusun beberapa kitab debat (Kutub Jadal) untuk menyerang kaum Zindiq dan Atheis, agar pandangan-pandangan mereka tidak merusak akidah umat Islam. Karena itu, dia banyak memonitor pemikiran, aktor dan gerak-gerik mereka. Sikapnya terhadap kaum Zindiq dan Atheis pun sangat tegas. Banyak di antara mereka yang dijatuhi hukuman mati.

Selain itu, dialah orang yang mendirikan Diwan al-Barid (urusan pos dan komunikasi) mulai dari Madinah, Yaman, Makkah hingga ke al-Hadhrah yang diangkut dengan keledai dan unta. Menurut ad-Dzahabi, beliaulah Khalifah yang pertama kali membangun Diwan tersebut untuk pengiriman surat dan dokumen dari Hijaz ke Irak. Ini beliau lakukan pada tahun 166 H.

Pada tahun berikutnya (167 H), dia menginstruksi-kan perluasan Masjid al-Haram, sehingga beberapa bangunan bisa dimasukkan di dalamnya.
Sebagai Khalifah, al-Mahdi pun menguasai ditil hukum syariah yang diterapkannya. Suatu ketika penduduk Bashrah, Irak, berselisih karena memperebut-kan salah satu anak sungai di Bashrah. Khalifah al-Mahdi pun berkata, “Sesungguhnya tanah milik Allah yang ada di tangan kami adalah milik kaum Muslim. Maka, apa yang tidak bisa dijual, harganya harus dikembalikan kepada seluruh kaum Muslim dan untuk kepentingan mereka. Karenanya, tidak ada jalan bagi siapapun untuk mengusainya.” Penduduk Bashrah pun menyanggahnya, “Sungai ini adalah milik kami berdasarkan keputusan Rasulullah SAW karena baginda pernah bersabda, “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu adalah miliknya.” Ini adalah tanah mati.” Ketika mendengar Nabi disebut, Khalifah al-Mahdi pun mengusapi pipinya dengan debu, seraya berkata, “Aku mendengar apa yang beliau sabdakan, dan aku mentaatinya.” Tidak lama kemudian dia kembali dan berkata, “Tanah ini tetap akan menjadi tanah mati, sehingga aku tidak akan mengambilnya. Lalu, bagaimana mungkin tanah ini dianggap tanah mati, sementara airnya mengalir di sekelilingnya? Karena itu, kalau mereka bisa memberikan bukti untuk tanah ini, aku akan serahkan kepada mereka..”

Sejarah juga mencatat, bahwa wilayah Irbid, India pun berhasil ditaklukkan dengan paksa pada zamannya.
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/1991-khalifah-al-mahdi-dicintai-rakyat-karena-kebijakannya.html


Meski dia Khalifah kedua dari Khilafah Abbasiyyah, tetapi dialah pendiri yang sesungguhnya Khilafah Abbasiyyah, yang menjadi mercusuar dunia, pusat peradaban, kebudayaan dan ibukota dunia selama 5 abad. Meski menjadi khalifah di masa transisi, dari Bani Umayyah ke Bani Abbasiyyah, dia berhasil melewati semua rintangan dengan bijak dan gemilang. Dia akhirnya berhasil membangun sebuah negara dengan kesadaran total, kerja keras yang luar biasa, dan politik yang bijaksana.

Dia menjadi Khalifah sejak Dzulhijjah 136 H/Juni 754 M ketika berusia 41 tahun. Dia memindahkan ibukota Khilafah dari Damaskus, Suriah, ke Baghdad, Irak. Baghdad dipilih sebagai ibukota baru untuk membuka lembaran sejarah baru Khilafah yang jauh dari sejarah kelam di masa lalu. Dipilihlah Baghdad, tempat yang terletak di Pantai Dajlah. Dialah yang meletakkan batu pertama pembangunan kota itu pada tahun 145 H/762 M. Dengan mempekerjakan sejumlah insinyur senior dan pekerja, hanya dalam waktu 4 tahun dia merampungkan pembangunan Kota Baghdad sehingga secara resmi ibukota Khilafah dipindahkan ke sana tahun 149 H/766 M. Khalifah, istri dan apatur administrasi negara dipindahkan ke sana pada tahun yang sama. Kota Baghdad pun dia beri gelar dengan Madinatu as-Salam (Kota Keselamatan). Tidak hanya itu, dia pun memperluas tepi barat Sungai Dajlah pada tahun 151 H/768 M dengan mendirikan kota baru di bagian timurnya dengan nama Rashafah. Di kota ini, dia membangun benteng, parit, masjid dan istana.

Peninggalan al-Manshur yang spektakuler untuk pengembangan sains dan teknologi, serta pusat peradaban adalah Baitu al-Hikmah. Ini merupakan tempat yang terletak di jantung istana Khilafah, di Baghdad. Dia sendiri yang mengurus Baitu al-Hikmah, yang sekaligus menujukkan perhatian yang luar biasa pada sains, teknologi dan para ulama dan intelektualnya. Melalui Baitu al-Hikmah ini dia melakukan proyek penerjemahan buku-buku peninggalan Yunani Kuno, seperti kedokteran, teknis engineering, matematika dan astronomi ke dalam bahasa Arab. Di antara penerjemah itu ada juga orang Kristen. Baitu al-Hikmah ini tetap bertahan hingga Baghdad diluluhlantakkan oleh tentara Mongol tahun 656 H/1258 M.

Untuk mempertahankan negaranya, setelah pilar-pilarnya berdiri kokoh, al-Manshur pun mulai melakukan ekspansi ke luar negeri khususnya menghadapi Bizantium. Akhirnya, Bizantium pun meminta dilakukan perjanjian damai pada tahun 149 H/766 M, dan permintaan itupun dipenuhi oleh sang Khalifah. Meski tampak sikap Khalifah al-Manshur begitu tegas dan garang, tetapi dia senantiasa mendengarkan pandangan ulama dan menerima mereka dengan lapang dada, meski terdengar keras. Itulah yang dia tunjukkan kepada Sufyan at-Tsauri, Amru bin Ubaid, Ibn Abi Dzuaib, al-Auzai dan lain-lain. Adapun sikap dia yang tegas terhadap Imam Abu Hanifah dan Malik, karena di mata sang Khalifah, kedua ulama ini dianggap sebagai pendukung Alawiyah. Khalifah agung ini pun meninggal dunia pada 6 Dzulhijjah 158 H/7 Oktober 755 M, ketika sedang berihram untuk haji dan umrah. Dia dimakamkan di makam al-Mala (Sumur Maimun), di atas kota Makkah.
sumber: http://www.mediaumat.com/cermin/1900-41-abu-jafar-al-manshur-membangun-baghdad-pusat-khilafah-dan-peradaban-.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: